Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Cinta : Tentang Kecocokan


Ibaratnya pergi ke pasar mau beli sendal. Banyak ragamnya, pilihan warna, ukuran hingga kenyamanan. Semua itu tidak berguna ketika pilihan yang dicari tidak cocok. Sama seperti postingan ini tentang hubungan asmara soal kecocokan.

Saya belum move on dari kisah asmara saya beberapa bulan lalu. Jangan heran, kata single maupun jomblo begitu menyenangkan untuk dilempar di timeline. Move on disini bukan berarti saya gak bisa dekat dengan seseorang. Ini hanya soal kecocokan saja.

Beberapa pasangan yang sudah putus, mungkin sekarang sudah punya pasangan baru. Terkhusus wanita, mereka saya akui paling cepat mendapatkan pasangan baru. Saya berkaca pada orang-orang disekitar saya.

Tentang kecocokan

Saya tetap berharap mendapatkan seseorang buat diajak berbagi, tentang hidup, hal-hal kecil dan rasa bangga yang selalu ditempatkan sebagai pria. Nyatanya, silih berganti dekat dengan wanita, masih saja mencari yang namanya kecocokan.

Andai saya masih muda, di bawah 25 tahun, tentu upaya mendekati wanita akan saya lakukan dengan sangat keras. Usia yang masih menggebu-gebu tanpa pikir panjang saat usia tersebut. Kalau jodoh, pasti langsung nikah. Kalau tidak, ganti pasangan lagi tanpa harus mengemis soal cinta.

Tapi, usia mendekat 30 tahun ini ternyata tidak bisa. Saya sudah menjalani beberapa kencan dengan beberapa wanita, nyatanya mereka tidak cocok. Mereka cantik, baik, tangguh, dan punya segalanya yang didambakan banyak pria untuk memintanya menjadi pasangan.

Entahlah, apa karena kriteria saya yang begitu tinggi atau karena mereka yang hanya suka kebaikan dan perasaan tidak enak untuk menolak diajak keluar.

Saya sempat ditanya tentang kriteria yang sepertinya ketinggian. Oh, tidak. Bukan soal itu sebenarnya. Ini soal KECOCOKAN. Saya ingin mendapatkan seseorang yang dapat membuat hati saya seperti tersengat listrik. Dada saya ditahan alat kejang saat tubuh saya tidak bergerak atau tidak ingin lepas dari perhatiannya. Saya belum bisa merasakan jatuh cinta lagi.

Apakah saya normal? Serius saya normal. Kampret yang mikirnya sampai sana. Haha.. Mendapatkan pasangan itu tidak semudah mendapatkan sendal yang dibeli dari pasar. Mungkin, syarat utama pasangan saya nanti adalah mereka harus sangat tangguh.


Saya jadi kebayang film Troy, bagaimana terselip hubungan cinta ditengah perang besar yang tengah terjadi. Brad Pitt beradu akting dengan Rose Byrne. Rose yang berperan sebagai Briseis ditangkap anak buah Achilles (Pitt). Keduanya berantem dan tiba-tiba keduanya saling suka. Sebagai tokoh jagoan, Achilles sangat ditakuti musuh. Ternyata Briseis malah sebaliknya. Dan mereka pun saling suka.

...

Bukan karena kebanyakan mencari sosok dari sebuah film. Hanya saja sebuah momentum seperti yang terjadi di film Troy itu sangat mengasyikkan.

Saya pernah mendapatkan seseorang yang punya situasi seperti itu. Menyengat, berani, dan saya jatuh cinta dengan semua situasi seperti itu.

Dari semua yang saya katakan di sini, pria dengan kategori seumuran saya yang seharusnya dikategorikan sukses dari sisi penghasilan dan mateng pekerjaan, kecocokan itu sangat penting.

Saya mudah bergaul dengan siapa saja, pria dan wanita. Tentu khususnya yang dibahas wanita. Tapi tidak semua pertemanan harus direalisasikan dalam sebuah hubungan.

"Akhirnya saya tidak jadi beli sendal di pasar meski sudah berhari-hari mencarinya. Mungkin saya harus mencarinya di Mal, toko di sekitar rumah atau di kota lain bahkan di negara luar".

Gambar : Google

Artikel terkait Cinta:

Komentar

Postingan populer dari blog ini