Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Mengetahui Idealisme Seseorang Lewat Cara Memasak Mie Bungkus


[Artikel 18#, kategori Tips] Pernah merasakan masakan orang lain lebih enak ketimbang diri kita yang memasak sendiri, semisal masak mie bungkus. Saya? Pernah dong. Karena ini juga, saya malas masakin orang lain setelah dibilang kurang enak. Hmm..

Apa hubungan antara idealisme dan mie bungkus yang harganya kini paling murah sekitar seribu rupiah. *Ingat dulu waktu Sekolah, harga mie cuma 200 rupiah.

Ada, bila ingin mengetahui idealisme seseorang, kita bisa melihat dari seseorang yang memasak mie. Ini menurut saya saja, lho.

Alasannya? Mungkin orang yang baru kita kenal memasakkan mie bungkus yang kita minta pasti masih terasa enak. Namun seiring waktu, terkadang rasanya tidak seperti awal kita menyukainya. 

Kita mulai meminta ditambahkan telur, kurangi air atau juga dibuat mie goreng saja ketimbang mie rebus. Dan orang yang kita minta tentu merasa diatur-atur dan dalam hatinya mungkin berkata, sudah dimasakin minta aneh-aneh lagi.

Dari sini, kita sudah tahu seperti apa sifat idealis seseorang. Memang cara mengetahui idealisme seseorang sangat banyak, tapi yang saya pikirkan baru ini saja.

Seperti kehidupan dalam dunia nyata seperti berkomunitas atau berorganisasi, terkadang kita merasa nyaman saat awal bertemu. Kita menyukai cara ia bicara dan memiliki impian serta hal positif lainnya yang membuat kita kagum.

Manusia tidak seperti malam dan siang yang sangat konsisten berganti. Manusia memiliki masalah serius dalam menjaga keseimbangan dirinya saat hari ini bisa bilang A, maka besok bisa bilang B dan C.

Kita si pengagum perlahan-lahan mulai mengenal sosok sebenarnya. Ternyata orang yang kita kagumi ini memiliki idealisme yang kurang cocok dengan saya. Belum lagi, orang itu memikirkan diri kita yang tidak cocok dengannya dan kemudian pergi begitu saja setelah merasa diatur-atur.

...

Ya begitulah menurut saya untuk mengetahui seberapa besar idealisme seseorang yang bisa kita coba dengan contoh memasak mie bungkus.

Ada yang mau buatkan saya mie goreng hari ini?

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini