Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Pengalaman Naik Gojek Drivernya Perempuan


[Artikel 19#, kategori Teknologi] Saya tidak meyangka kalau yang datang adalah driver perempuan. Agak gimana gitu, tapi yasudahlah. Tubuh saya pergi bersamaan kami menuju lokasi yang dituju. Pernah naik Gojek drivernya perempuan, terutama Anda yang pria?

Hampir 2 minggu belakangan ini, sebelum bulan November berakhir, kesibukan saya dengan ngeblog benar-benar menyita waktu saya. Satu sisi ingin hemat, dan satu lagi menghormati profesi blogger yang diyakini.

Selama perjalanan, saya tidak ingin dicap penumpang kurang ajar. Apalagi yang menjadi driver adalah wanita paruh baya, dan punya banyak pengalaman berhadapan dengan penumpang sejenis saya.

Kami mengobrol, mulai dari hal biasa hingga tentang perasaannya saat harus mendapatkan penumpang pria. Meski kadang tidak terdengar dengan baik karena angin yang mengganggu, saya paham maksudnya.

Si mbak Driver ini berpengalaman sepertinya, wangi tubuhnya membuat saya nyaman duduk dibelakangnya. Saya sempat diberi masker, tapi saya tolak.

Pengalaman paling menarik yang diceritakan si mbak driver yang masih bertahan di Gojek Semarang hingga sekarang ini adalah penumpang yang nyetir sendiri, dan si mbaknya jadi penumpang.

Alasannya karena si penumpang gak suka aja. Si mbak Gojek mau nggak mau memberi kesempatan tersebut, katanya yang pernah ia alamai. Apakah saya mau ngikutin? Nggak ah. Lagian saya nggak punya SIM.

Akhirnya kami tiba ditujuan. Saya senang mendapatkan pengalaman ini mengingat naik Gojek lebih hemat ketimbang membawa mobil, apalagi saya tidak punya SIM.

Entahlah, kadang saya membenci acara yang berada di luar jangkauan saya, seperti Semarang atas - Tembalang. Saya jadinya nggak bisa naik sepeda.

Artikel terkait :

Komentar




  1. Dengan adanya transportasi online/ Gojek memang memberi keuntungan bagi keduanya, antara penumpang dan driver gojek itu sendiri. Maka dari itu kita harus memberikan support penuh kepada driver-driver gojek supaya tahu Cara Mendapatkan Orderan Gojek Dengan Cepat

    BalasHapus
  2. Saya senang mendapatkan pengalaman ini mengingat naik Gojek lebih hemat ketimbang membawa mobil, apalagi saya tidak punya SIM

    BalasHapus

Posting Komentar