Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Kadang Sedih Juga, Diundang Tapi diperlakukan Sama Dengan yang Lain


[Artikel 30#, kategori aktivitas] Saya senang diundang, apalagi atas nama dotsemarang yang saya hormati sebagai profesi seorang bloger. Dengan mendapatkan undangan, tentu manusiawi sekali kalau saya berpikir spesial. Dan saya akan balas kebaikan si pengundang dengan sebuah postingan dan share di media sosial dotsemarang. Tapi..

Kadang sedih juga setelah tiba di lokasi acara, makna spesial sebagai undangan itu diperlakukan sama dengan peserta lain. Apakah saya terlalu sombong? Tidak. 

Seharusnya saya tidak akan datang untuk sebuah acara bila tidak diundang. Saya menghargai waktu sama seperti uang, mengingat pekerjaan saya sebagai bloger belum dapat menjadi fondasi hidup saya. Saya berharap mendapatka penghasilan di sana.

Selain soal waktu, saya juga harus mengeluarkan tenaga dan pikiran. Saya bersepeda dan lumayan lelah kalau jarak dari rumah (jl.Majapahit) sampai lokasi acara (semisal, Tugu Muda).

Saya kedengar manja, dan angkuh. Jangan berpikir ke sana, karena saya sudah melakukan aktivitas ini lebih dari 3 tahun lamanya. Saya tidak lagi bertahan pada prinsip mengejar passion. Karna sekarang sudah terjun, saya menyukainya. 

Yang saya katakan ini hanya sebuah ungkapan perasaan bahwa terkadang saya juga merasa sedih saat datang ke sebuah acara diperlakukan sama dengan peserta biasa. Daftar, kasih snack, dan pulang. Padahal undangan tersebut menaruh nama bloger sebagai partisipasi secara resmi sebagai undangan.

...

Saya berharap, brand yang menggunakan agency atau perusahaan (EO), melihat bahwa bloger itu sebuah profesi yang kedatangannya kurang lebih punya pengaruh saat ini. Karna diundang, saya pikir mereka tahu pentingnya bloger saat ini.

Lebih baik saya nggak datang semisal hanya untuk memenuhi kuota peserta dan menaikkan trending topik di media sosial. Saya ingin dibayar karena pengalaman dan nilai saya.

Saya senang diundang sebagai bloger, tapi saya juga sedih, bila Anda perlakukan saya sebagai peserta biasa yang mendaftar karena tertarik acaranya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

📌 Realitas Finansial Juni 2026: Ketika Tagihan Menembus Angka 1 Juta dan Bertahan di Jalur Blogger