Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Ketika Rasa Malas Menulis Menghinggapi


[Artikel 33#, kategori Motivasi] Jujur, beberapa hari ini saya benar-benar malas menulis meski ide di kepala saya menari-nari ingin dituangkan dalam blog ini. Sayangnya, saya cuma sanggup ngisi blog dotsemarang. Begini mungkin rasanya yang sehari biasanya nulis tiba-tiba malas. Tetap saja menderita. 

Bila menemukan tulisan sebelum post ini kosong dan tiba-tiba terisi, itu saya berarti sedang berusaha membayar postingan yang belum dipublish. Saya memang punya tips agar blog tetap terisi meski saya sedang berhenti menulis. Coba baca di sini tipsnya.

Mungkin bukan saya saja yang mengalami hal seperti ini. Anda pun tentu juga pernah, termasuk mereka yang profesional sekalipun. Sebenarnya tidak ada yang bisa mempengaruhi ketika seseorang sudah mengerjakan sesuatu dengan passion. Tapi kemarin, saya benar-benar harus menyerah. Ini karena sakit diare. Sudah sembuh, datang lagi penyakit lain yang menyerang.

Ketika malas menulis menghinggapi, asal tidak sakit, biasanya saya berusaha mengoptimalkan dengan kopi sebagai asupan konsentrasi yang hilang. Tapi bila itu gagal, saya mencobanya keluar dari rumah. Bisa jalan-jalan ke mal atau bersepeda sebentar.

Baru-baru ini saya juga menemukan asupan vitamin yang dapat memberi semangat menulis. Tapi saya berusaha menahannya untuk tidak mengkonsumsi bila memang tidak begitu butuh.

Menulis sependek ini sebenarnya mudah kalau dalam keadaan normal. Tapi kalau memang butuh istirahat, ya sudah jangan dipaksakan. Kadang kita memang harus berhenti untuk sesuatu yang tak bisa kita paksa.

...

Berhenti menulis bukan berarti lebih nyaman atau tenang. Ide-ide yang menari di otak saya perlu dikeluarkan karna dari waktu ke waktu ada saja yang ingin ditulis. Kalau dikumpulin terus, jadinya tambah malas. Memang setelah menulis cuma perasaan lega yang di dapat, tapi itulah nikmatnya.

Bila Anda mengalami hal yang sama, coba terus dilawan. Akali dengan perubahan suasana hati seperti tempat dan minuman, atau juga makanan. Semua itu dapat membantu pastinya. 

Kalau semua itu tidak bisa, yasudah. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini