Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Religius dan Tentang Menjaga Komitmen


[Artikel 9#, kategori Amir] Menjaga komitmen itu tidak mudah. Harus pantang menyerah dan selalu berkaca. Kalau semua yang kita lakukan itu benar, saya yakin, rasa hormat, bangga, dan berbagi terlihat lebih mudah. 

Apa kabar si Amir? Pria yang masih terus menjaga komitmen buat dirinya sendiri. Akhir-akhir ini, ia lebih terlihat religius. Solat 5 waktu, mengaji dan bahkan puasa Senin dan Kamis. Wah, saya benar-benar tersinggung sebagai muslim yang masih banyak kekurangan bila berada didekatnya.

Biarlah, saya turut senang dengan perubahan yang terjadi saat ini. Dan saya juga harus berterima kasih kepada mereka yang mengangkat isu Gubernur Jakarta menjadi viral. Dampaknya benar-benar bisa saya rasakan saat ini. Ada orang baik yang bisa lebih baik lagi karena menemukan takdirnya yang ia cari selama ini.

Disatu sisi, saya senang dengan perubahan sikap yang terjadi. Namun disatu sisi lain, perubahan itu adalah tantangan untuk dia menjawab komitmennya yang telah ia mulai. Apakah bisa terus pergi ke masjid saat subuh, apakah ia tidak lupa dengan panggilan suara Azan saat tubuhnya merasa lelah.

Bagi saya, ia masih selalu kesulitan menjaga komitmen. Yang akhirnya sikap inkonsisten terus yang diperlihatkan dan dapat berdampak buruk dalam kehidupan sehari-hari.

Bila ia bisa melewati dan bersabar dengan waktu, saya yakin ia akan menjadi pribadi yang luar biasa. Dari ibadah, ia bisa belajar berkomitmen pada dirinya sendiri. 

...

Saat seseorang ingin menjadi lebih baik, itu perlu didukung. Namun saat seseorang sudah berusaha tapi gagal, terkadang kita merasa sudah lelah dengan apa yang kita katakan sebagai penyemangat.

Memang diri sendiri yang bisa mengubah, dan tidak ada orang lain yang dapat mengubah. Inilah pentingya menjaga komitmen bagi diri sendiri. Berani yakin, berani bertindak, berani mendengarkan isi hati dan berani mengkesampingkan berbagai kepentingan.

Menjadi orang baik itu masih sulit menurut saya. Semoga kamu bisa!

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini