Selamat bertambah usia untukku. Di tengah perayaan sederhana yang kuhidupkan lewat tulisan ini, aku memilih tema “Pria Tidak Berdaya” sebagai cermin perjalananku. Bukan untuk meratapi nasib, tapi untuk memeluk kejujuran—tentang diriku, tentang hidup, dan tentang harapan yang masih kugenggam erat meski kadang terasa rapuh. Dalam bahasa Indonesia, “berdaya” berarti punya kekuatan, kemampuan, atau kemauan untuk menghadapi hidup—entah itu menyelesaikan masalah, mengejar mimpi, atau sekadar bangun dari tempat tidur dengan semangat. Tapi di usia ini, aku merasa berada di sisi sebaliknya: tidak berdaya. Bukan karena aku menyerah, tapi karena hidup terasa seperti permainan yang aturannya terus berubah, dan aku sering kehabisan napas untuk mengejar. Hampa di Tengah Keramaian Di usia 39, aku melihat banyak pria seusia ku hidup dalam ritme yang sepertinya lebih “hidup”. Mereka punya pekerjaan yang memberi kepastian—gaji bulanan yang datang tanpa drama, hanya perlu mengatur apa yang masuk ke ...
Dapatkan link
Facebook
X
Pinterest
Email
Aplikasi Lainnya
Tempat Perfect Menulis di Hari Kamis Setelah Nonton Film Indonesia
Dapatkan link
Facebook
X
Pinterest
Email
Aplikasi Lainnya
[Artikel 14#, kategori Kofindo] Seperti biasa, hari ini adalah hari kamis dan itu artinya saya harus pergi ke bioskop nonton film Indonesia. Kamis ini, ada 4 film Indonesia yang tayang dengan kualitas sangat baik. Salah satunya adalah film Headshot, sudah nonton?
Saya ingin bercerita sedikit tentang aktivitas saya tiap kamis bersama kofindo. Sebelum menjadi review film yang akan dipublish di blog dotsemarang, saya setelah menonton harus segera menulis membuat review film.
Karena bioskop yang nayangin film Indonesia adanya di mal, maka mau tak mau, saya harus mencari tempat menulis. Tempat yang biasa saya gunakan biasanya Tea House Tong Tji, tapi kalau lagi gak ada duit, saya memilih lokasi yang ada di bioskop (tempat keluar masuk khusus karyawan).
Saya punya kelemahan bila harus menulis film di rumah. Meski ada catatan yang saya buat untuk poin-poinnya, menulis rumah banyak sekali hambatannya. Kadang kehilangan momentum yang membuat mood hilang seketika, akhirnya dibiarkan berhari-hari. Tulisan jadinya kurang ada jiwanya.
Gelael Supermarket yang ada tempat nongkrongnya
Semenjak direnovasi, Gelael supermarket yang ada di Mal Ciputra menjadi lebih asyik karena ada tempat nongkrongnya. Namun baru 2 minggu ini saya mencobanya secara langsung saat diajak teman saya.
Konsep tempat nongkrong yang dibuat membuat saya berpikir bagaimana tren sekarang ini banyak minimarket melakukan hal yang sama. Pengunjung bisa ngopi, minum jus, makan siang (sudah dikemas dan siap saji), bayar langsung setelah belanja di supermarketnya, makan di tempat, dan sebagainya.
Untuk menambah nilai pengunjung agar lebih betah disediakan akses Wifi, sayang waktu ke sini saya nggak menggunakan. Semenjak ada Mifi Andromax M3Y, saya lebih suka pakai yang saya miliki.
Kamis ini (8/12), saya memutuskan tempat menulis di sini. Lebih perfect ketimbang Tea House yang ada di dekat bioskop. Harganya kurang lebih sama. Murah meriah. Kekurangannya, tempat duduk terbatas. Kalau sudah penuh, Anda tidak akan dapat bangku. Berbeda dengan Tea House, lokasinya dalam satu mal lumayan banyak. Jadi ada alternatif lain semisal penuh. Dan di sini tidak ada colokan listrik juga ternyata.
...
Kamis ini saya cuma punya cerita seperti ini. Saya senang suasana bioskop hari ini juga ramai. Ada 2 film Indonesia baru yang tayang seperti film Bulan Terbelah di Langit Amerika 2 dan film Headshot.
Selain itu, saya hari ini ada yang mentraktir. Itu lebih menyenangkan lagi, dan saya harap ia tidak kapok. Berbagi itu indah, semoga obsesinya tersalurkan menjadi energi positif.
Film yang saya tonton dan akan direview adalah film Headshot, ditunggu aja ulasannya di blog dotsemarang.
[Artikel 17#, kategori Tips] Saya sudah menghitung kira-kira berapa kuota yang dihabiskan untuk menonton siaran langsung sepakbola via streaming. Tentu Anda sekarang bisa mengukur biaya untuk menghabiskan kuota apabila tim kesayangan Anda akan bertanding hari ini.
Begini rasanya ketika mertua datang ke rumah, nggak enakan. Padahal, cuma menjenguk cucu kesayangan. Tapi rasa malas yang biasa dirasakan sebelum nikah, berubah rasa risih. Serba salah, pokoknya.
[ Artikel 32#, kategori keluarga ] Hujan mengguyur Kota Semarang seharian penuh hari ini, Rabu (22/4). Bagi sebagian orang, rintik air yang jatuh mungkin terasa menenangkan, namun bagi saya, ada trauma kecil yang menyelinap setiap kali langit mulai mendung. Benar saja, hujan kali ini kembali membawa pesan yang selama ini paling saya hindari: kabar duka. Suara dering telepon yang belakangan ini sering membuat saya waswas tiba-tiba memecah keheningan. Di layar ponsel, terpampang nama Bapak. Begitu tombol terima saya tekan, terdengar suara yang sangat familiar sedang bertanya tentang cara melakukan panggilan video. Tak lama, sambungan berganti menjadi video call . Melihat wajah Bapak dengan peci putihnya, perasaan saya mulai tidak enak. Jarang sekali beliau meminta panggilan video jika tidak ada hal yang sangat mendesak. Benar saja, dengan nada suara yang berusaha tenang, Bapak mengabarkan bahwa adik bungsunya—paman saya—telah meninggal dunia. Kalimat Innalillahi meluncur begitu saja. Sa...
[ Ini adalah artikel ke-10 kategori Cinta ] Saya menaruh postingan ini dari pengalaman saya sendiri, jadi tidak semua pria memiliki sifat sama seperti saya. Beberapa hal mengenai wanita yang dapat membuatnya sedih maupun tersenyum, terkadang pria menyukainya. Tapi kadang pula, pria dianggap baperan. Wajar saja sih.
Selamat bertambah usia untukku. Di tengah perayaan sederhana yang kuhidupkan lewat tulisan ini, aku memilih tema “Pria Tidak Berdaya” sebagai cermin perjalananku. Bukan untuk meratapi nasib, tapi untuk memeluk kejujuran—tentang diriku, tentang hidup, dan tentang harapan yang masih kugenggam erat meski kadang terasa rapuh. Dalam bahasa Indonesia, “berdaya” berarti punya kekuatan, kemampuan, atau kemauan untuk menghadapi hidup—entah itu menyelesaikan masalah, mengejar mimpi, atau sekadar bangun dari tempat tidur dengan semangat. Tapi di usia ini, aku merasa berada di sisi sebaliknya: tidak berdaya. Bukan karena aku menyerah, tapi karena hidup terasa seperti permainan yang aturannya terus berubah, dan aku sering kehabisan napas untuk mengejar. Hampa di Tengah Keramaian Di usia 39, aku melihat banyak pria seusia ku hidup dalam ritme yang sepertinya lebih “hidup”. Mereka punya pekerjaan yang memberi kepastian—gaji bulanan yang datang tanpa drama, hanya perlu mengatur apa yang masuk ke ...
Komentar
Posting Komentar