Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Melihat Fase Kehidupan Manusia Lewat Instagram


[Artikel 9#, kategori Instagram] Saya akui, Instagram adalah media sosial yang sangat efektif saat ini. Jadi tak heran, apapun dibagi di sana. Mulai hal kecil, sedang hingga besar. Sampai - sampai saya tahu fase kehidupan seseorang seperti apa di sana (Instagram). Tertarik?

Sepekan ini, teman saya di Instagram berbagi tentang info bagaimana menjadi istri yang baik. Saya mengerti dan tahu, apa yang terjadi saat ini dengannya. Saya anggap wajar dan cuek sebenarnya. Namun postingannya ternyata belum berhenti hingga tulisan ini dibuat. Wah, mungkin ini yang dinamakan fase pernikahan yang bahagia. Apalagi sebentar lagi dikarunia anak. Semoga terus bahagia sampai Kakek Nenek untuk kalian.

Fase bahagia 

Momen yang indah memang selalu menyenangkan untuk dibagi, maka sewajarnya kita yang hanya bisa melihat terkadang ikut bahagia.

Saya jadi ingat beberapa teman Instagram saya, khususnya perempuan, dimana ia berbagi kebahagiaan bersama pasangannya. Dari yang aneh, menyenangkan hingga jijik menurut saya. Mereka terus berbagi, dan bahkan menjadi rutinitas tontonan saya ketika ingin mengupload foto sehari sekali.

Fase sedih 

Kebahagiaan itu rupanya bertahan beberapa bulan. Teman saya itu akhirnya putus. Semua foto tentang si pria dihapus. Sungguh berat nasibnya. Kesedihan yang seharusnya membuat ia berdiam diri di kamar sepertinya harus membuatnya tampak sibuk menghapus kenangan si mantan. Bayangkan kalau fotonya ratusan. Pas kuota habis lagi. Yang ada, malah buat ketawa saja.

Fase membanggakan 

Beberapa pengguna di Instagram sangat bangga dengan kelulusan wisuda mereka dan berbagi tentang foto mereka dengan toga yang dikenakan. Keluarga, pasangan dan teman - teman diajak serta merta dalam frame yang ada di Instagram dengan pilihan 1x1, 3x4 atau 16x9.

Belum lagi secarik kertas yang memberikan informasi kelulusan pun dimasukkan. Wah, mereka harus sangat berterima kasih kepada Instagram kalau begitu. Mungkin saja seseorang yang tidak dekat dengannya menjadi tahu kabar bahagia tersebut dan mendoakan yang terbaik selanjutnya.


Fase  pertumbuhan 

Ini yang lagi jadi trend di Lini masa Instagram saya. Pengguna Instagram perempuan muda khususnya apalagi yang sudah memiliki anak, mereka dengan senang hati berbagi moment anak mereka.

Bayangkan Betapa bangganya si anak melihat dirinya terpampang secara umum mulai dari bayi hingga masuk sekolah. Bagaimana perasaan si anak nanti atau suatu hari ketika mereka ada masalah. Entahlah hanya orang tua mereka dan Tuhan yang tahu.

Gambar : tarissabalqisn99.blogspot.co.id


...

Ini hanya sebagian kecil dari fase-fase lainnya yang ada di muka bumi. Instagram benar-benar menjadi sesuatu yang luar biasa bahkan melebihi media sosial lainnya.

Bagaimana denganmu, apakah kamu juga ingin menceritakan kisah-kisahmu kepada dunia. Mulai dari fase menyenangkan membanggakan hingga menyedihkan.

Satu hal yang pasti untuk diingat selalu apa yang kamu bagikan selalu pertimbangkan baik buatmu belum tentu buat orang lain.

Artikel terkait 

Komentar

Postingan populer dari blog ini