Selamat bertambah usia untukku. Di tengah perayaan sederhana yang kuhidupkan lewat tulisan ini, aku memilih tema “Pria Tidak Berdaya” sebagai cermin perjalananku. Bukan untuk meratapi nasib, tapi untuk memeluk kejujuran—tentang diriku, tentang hidup, dan tentang harapan yang masih kugenggam erat meski kadang terasa rapuh. Dalam bahasa Indonesia, “berdaya” berarti punya kekuatan, kemampuan, atau kemauan untuk menghadapi hidup—entah itu menyelesaikan masalah, mengejar mimpi, atau sekadar bangun dari tempat tidur dengan semangat. Tapi di usia ini, aku merasa berada di sisi sebaliknya: tidak berdaya. Bukan karena aku menyerah, tapi karena hidup terasa seperti permainan yang aturannya terus berubah, dan aku sering kehabisan napas untuk mengejar. Hampa di Tengah Keramaian Di usia 39, aku melihat banyak pria seusia ku hidup dalam ritme yang sepertinya lebih “hidup”. Mereka punya pekerjaan yang memberi kepastian—gaji bulanan yang datang tanpa drama, hanya perlu mengatur apa yang masuk ke ...
Dapatkan link
Facebook
X
Pinterest
Email
Aplikasi Lainnya
Jangan Biarkan Temanmu Menunggu
Dapatkan link
Facebook
X
Pinterest
Email
Aplikasi Lainnya
[Artikel 38#, kategori Motivasi] Di tempat yang sama, kembali saya sedang menunggu seseorang. Kali ini bukan wanita, tapi pria. Saya sudah janjian mau kopi darat di tempat ini. Ada sekitar 3 orang yang saya ajak kopdar 2 bulan terakhir di sini. Bertemu, silaturahmi dan bercerita kabar hari ini, selalu menyenangkan.
Rabu siang (8/3), saya sudah bergegas ke luar rumah di tengah terik siang bolong sebelum jam 12 siang. Masih dengan sepeda tentunya, tak perlu khawatir, saya sudah biasa.
Kopdar kali ini tidak punya tujuan tertentu seperti sebelumnya. Saya jadi ingat dengan pria yang umurnya beberapa tahun di bawah saya yang kopi daratnya di salah satu hotel yang berada di tengah kota. Kami berbicara tentang dunia blogging waktu itu. Ternyata dunia kami berbeda.
Sebelumnya, saya juga kopi darat dengan seorang perempuan di tempat yang sama. Itu bukan hotel, tapi di dalamnya ada gerai Tea House Tong Tji. Salah satu tempat asyik buat nongkrong di Semarang.
Saya suka datang lebih awal dan saya berharap komitmen ini bisa berjalan mulus. Maka jangan heran, saya pasti ada duluan setiap kopdar.
Menunggu itu tidak menyenangkan
Kopi darat terakhir saya ini ternyata gagal. Saya tidak ingin menyalahkan siapa-siapa. Siapa tahu, memang orangnya lagi sibuk dan lupa ngabarin. Meski membuang waktu saya, tapi saya coba terima dengan akal sehat.
Saya ingin mengambil hikmah dari kejadian ini, termasuk 2 orang yang kopi darat dengan saya sebelumnya. Menunggu itu tidak menyenangkan dari waktu yang sudah ditentukan.
Meski pada akhirnya menggunakan ilmu sabar dan percaya, tetap saja, membuat orang lain menunggu itu gak bagus dan gak baik. Itu pendapat saya.
Saat menunggu, saya selalu gugup. Apakah tamu kehormatan yang saya undang akan datang? Saya sudah menyiapkan beberapa kata-kata untuk menyambutnya. Karena tempatnya sangat ramah dikantong, saya akan membiarkan memilih menu lebih cepat.
Saat menunggu, saya juga merasa cemas. Apakah yang saya lakuin ini benar atau tidak? Karena waktu buat saya sangat berharga. Dan kebenaran juga beberapa jam sesudahnya nanti akan ada acara selanjutnya. Sangat terbatas dan semoga pertemuan kita bisa maksimal.
...
Lewat postingan ini, saya ingin kasih semangat buat orang-orang yang sudah berjanji ingin bertemu atau kopdar. Hargai apa yang sudah dibuat dan disepakati. Kalau memang sulit, kasih kabar.
Tentang kopdar saya dengan yang lain yang belum terlaksana awal tahun 2017 ini, saya ingin bertemu dengan momentum yang bagus. Semisal sudah beberapa tahun tidak bertemu atau saya ada kepentingan, termasuk kalian juga.
[Artikel 17#, kategori Tips] Saya sudah menghitung kira-kira berapa kuota yang dihabiskan untuk menonton siaran langsung sepakbola via streaming. Tentu Anda sekarang bisa mengukur biaya untuk menghabiskan kuota apabila tim kesayangan Anda akan bertanding hari ini.
Begini rasanya ketika mertua datang ke rumah, nggak enakan. Padahal, cuma menjenguk cucu kesayangan. Tapi rasa malas yang biasa dirasakan sebelum nikah, berubah rasa risih. Serba salah, pokoknya.
[ Artikel 32#, kategori keluarga ] Hujan mengguyur Kota Semarang seharian penuh hari ini, Rabu (22/4). Bagi sebagian orang, rintik air yang jatuh mungkin terasa menenangkan, namun bagi saya, ada trauma kecil yang menyelinap setiap kali langit mulai mendung. Benar saja, hujan kali ini kembali membawa pesan yang selama ini paling saya hindari: kabar duka. Suara dering telepon yang belakangan ini sering membuat saya waswas tiba-tiba memecah keheningan. Di layar ponsel, terpampang nama Bapak. Begitu tombol terima saya tekan, terdengar suara yang sangat familiar sedang bertanya tentang cara melakukan panggilan video. Tak lama, sambungan berganti menjadi video call . Melihat wajah Bapak dengan peci putihnya, perasaan saya mulai tidak enak. Jarang sekali beliau meminta panggilan video jika tidak ada hal yang sangat mendesak. Benar saja, dengan nada suara yang berusaha tenang, Bapak mengabarkan bahwa adik bungsunya—paman saya—telah meninggal dunia. Kalimat Innalillahi meluncur begitu saja. Sa...
[ Ini adalah artikel ke-10 kategori Cinta ] Saya menaruh postingan ini dari pengalaman saya sendiri, jadi tidak semua pria memiliki sifat sama seperti saya. Beberapa hal mengenai wanita yang dapat membuatnya sedih maupun tersenyum, terkadang pria menyukainya. Tapi kadang pula, pria dianggap baperan. Wajar saja sih.
Selamat bertambah usia untukku. Di tengah perayaan sederhana yang kuhidupkan lewat tulisan ini, aku memilih tema “Pria Tidak Berdaya” sebagai cermin perjalananku. Bukan untuk meratapi nasib, tapi untuk memeluk kejujuran—tentang diriku, tentang hidup, dan tentang harapan yang masih kugenggam erat meski kadang terasa rapuh. Dalam bahasa Indonesia, “berdaya” berarti punya kekuatan, kemampuan, atau kemauan untuk menghadapi hidup—entah itu menyelesaikan masalah, mengejar mimpi, atau sekadar bangun dari tempat tidur dengan semangat. Tapi di usia ini, aku merasa berada di sisi sebaliknya: tidak berdaya. Bukan karena aku menyerah, tapi karena hidup terasa seperti permainan yang aturannya terus berubah, dan aku sering kehabisan napas untuk mengejar. Hampa di Tengah Keramaian Di usia 39, aku melihat banyak pria seusia ku hidup dalam ritme yang sepertinya lebih “hidup”. Mereka punya pekerjaan yang memberi kepastian—gaji bulanan yang datang tanpa drama, hanya perlu mengatur apa yang masuk ke ...
jadi blogger itu uang nya asal dari mana aja bang ?
BalasHapusHalo Danar,
HapusUangnya bisa dari review produk, liputan acara, tulisan berbayar, promosi di media sosial dan lomba blog.
*masih banyak lagi, dan yang saya tulis ini merupakan pengalaman saya saja