Keluar dari Grup Chat Komunitas, Apakah Alasannya?


Berkomunitas itu menyenangkan, jujur saya akui. Punya banyak teman, ada yang selalu mendukung, mendapatkan pengalaman suka dan duka, hingga bisa dapat pasangan. Kata terakhir, saya harap bisa dipertimbangkan. Karena kebanyakan orang pergi dari komunitas, salah satunya karna punya pasangan dalam komunitas. Postingan ini saya ingin berbagi sedikit alasan saya keluar dari grup komunitas.

Satu bulan ini, saya sudah keluar dari 2 grup chat komunitas yang saya ikuti. Entahlah, apakah mereka melihat saya masih belum dewasa karna sedikit-sedikit keluar dan bawa perasaan (baper). Sebelumnya, saya juga malah keluar dari komunitas yang saya buat sendiri. 

Harapan yang begitu tinggi

Sebagai orang yang telah lama berkecimpung dalam berkomunitas, saya punya beberapa pengalaman yang saya dapatkan. Baik dari komunitas yang saya ikuti maupun yang saya buat sendiri.

Pengalaman ini tentu punya standar sendiri, khususnya buat saya yang pernah membangun komunitas. Namun beberapa komunitas yang saya ikuti, tidak memenuhi harapan yang saya mau. Dan saya akhirnya memutuskan pergi meninggalkannya. Ini masalah saya sendiri yang begitu punya harapan tinggi.

Maksud dan tujuan yang masih sama

Dulu saya pikir tujuan membangun komunitas adalah punya tujuan yang sama. Ternyata tidak. Ada yang ingin ikut biar eksis, punya teman, dan ingin ngetrend. Saya mengakui ini ketika dulu membangun dotsemarang.

Setahun belakangan ini, saya mencoba bangkit lagi dengan harapan merangkul orang-orang yang belum berkomunitas. Ternyata, masih sama seperti dulu. Saat saya pikir mereka tidak bisa apa-apa, ternyata mereka malah duduk di samping saya dalam satu ruangan namun berbeda tumpangan.

Terlalu banyak ikut sana-sini

Bukan karna hp saya tidak sanggup untuk membuka aplikasi chat yang punya ratusan pesan yang belum saya baca. Hanya saja, ini tidak benar menurut saya.

Saya berjumpa dengan si A di sini. Dan saya berjumpa dengan si A ditempat yang berbeda. Mereka 1 orang namun terlalu banyak ikut komunitas. 

Saya trauma dengan orang seperti ini. Jujur, saya punya harapan tinggi pada orang seperti ini yang menurut saya punya sesuatu yang sangat hebat pada dirinya. 

Saking hebatnya, ia bermanfaat dibanyak komunitas. Pada akhirnya, ia tidak fokus pada komunitas yang pertama dia ikuti dan membesarkan namanya. Ia melihat sebagai batu loncatan dan itu tidak bagus buat komunitas. 

Fokus pada diri sendiri

Diantara sekian alasan di atas, saya mau tak mau harus fokus pada diri sendiri dulu. Memikirkan komunitas saat ini tanpa adanya feedback, itu omong kosong.

Saya dulu benar-benar fokus pada komunitas dan tak pernah berpikir apa yang saya akan dapatkan. Saya mengerahkan semua potensi yang ada pada diri saya dan sekitar. 

Saat kehabisan amunisi dan bensin untuk melanjutkan hidup, tak ada satu pun yang dapat membantu saya kecuali diri saya sendiri. Mungkin bila saya dilahirkan kembali, saya berharap bisa jadi pribadi lebih baik dari sekarang.

...

Buat komunitas yang saya tinggalkan, meski tanpa saya pun tak membuat perbedaan, saya mohon maaf sebesar-besarnya dengan sikap kekanak-kanakan saya. Bawaan saya selalu baper, mulu. Kadang saya mendengar ini dari beberapa mulut yang saya kenal.

Saya hanya ingin mengenalkan pada dunia tentang orang-orang yang belum bisa melihat dunia. Tapi ketika kita sudah sama-sama melihat dunia, rasanya tidak perlu berkomunitas. Apalagi dunia yang dilihat lebih besar dari saya.

Rantai yang saya bangun malah putus ditengah jalan. Saat menjadi rantai, saya malah tak mendapatkan gembok yang kuat agar rantai tidak putus.

Saya harap jangan membenci saya. Lihat saya sebagai orang yang baik saja. Karena menurut saya menjadi orang baik itu sangat sulit.

*Saat ini masih ada 2 komunitas yang saya ikuti. Semoga komunitas ini masih saya ikuti untuk waktu yang lama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nonton Film Pengabdi Setan