Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Ke Jakarta Hanya Membawa 50 Ribu Rupiah

[Artikel 2#, kategori Jakarta] Saya tidak sedang membuat konten clickbait, tapi memang benaran uang yang saya bawa hanya 50 ribu rupiah saat pergi ke Jakarta. Saya datang ke Ibu Kota dalam rangka launching acara ASUS Indonesia. Mungkin kamu mengerti soal ini dari aktivitas saya.

Pantes saja. Ya, begitulah ketika sebenarnya hanya perlu membawa diri dan satu tas saat menerima undangan dari ASUS. Pesawat tinggal naik dan turun. Menginap, tinggal tidur dan menikmati langit Ibu Kota kala sedang sendiri pagi hari.

Hanya 50 ribu

Tahun 2017, saya pernah menulis tentang 50 ribu itu sangat berarti. Ada di bawah link-nya. Itu benar sekali, punya uang segini (50K) di dompet adalah kebanggaan.

Tidak mudah mendapatkan 50 ribu saat sekarang ketika kebutuhan harus terpenuhi, seperti kuota internet dan makanan kucing. 

Jadi ketika beberapa kali ke Jakarta dalam rangka acara ASUS, isi dompet saya berisi 50 ribu. Selembar itu saya gunakan untuk bertahan 1 bulan. Bisa dibayangkan, jika uang ini terpakai saat di Jakarta. 

Dompet saya langsung kosong.

Apalagi saat pandemi sekarang, pengennya ada barang-barang yang dijual untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Jadi tidak heran ketika rekan-rekan bloger yang turut hadir saya jarang nimbrung saat sesi malam yang kosong sebelum esok bertarung (launching).

Saya pasti memilih tidur. Bukan karena saya menghindari mereka. Tidur benar-benar jadi kebiasaan, dan ketika lewat jam tidur. Saya benar-benar mengantuk.

Dan beban juga kadang bila ikutan kegiatan di luar acara tanpa ikut berbelanja, semisal haus beli minum di jalan atau nyemil. Saya berusaha mempertahankan 50 ribu tersebut hingga pulang kembali ke Semarang.

Takutnya ada pengeluaran tidak terduga. Terutama bila tawaran sepi untuk dotsemarang.

...

Saya hanya ingin bercerita, bagaimana perjalanan saya ketika pergi ke Jakarta saat acara. Sebenarnya juga tanpa bawa uang sepeserpun bisa saja. 

Haha..saya bercanda. Karena ada uang non tunai yang ada di aplikasi semacam gopay. 

Kadang perjalanan perlu cerita sedih dan lucu sebagai bumbu penyedap untuk melihat secara keseluruhan bagaimana masa depan saat tiba nanti. 

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

📌 Realitas Finansial Juni 2026: Ketika Tagihan Menembus Angka 1 Juta dan Bertahan di Jalur Blogger