Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Selamatan Bayi Baru Lahiran

[Artikel 21#, kategori rumah tangga] Begini rasanya ketika punya bayi dan harus mengadakan selamatan. Pikiran saya melayang sendiri dengan ekonomi yang tidak baik-baik saja saat ini. Apakah saya bisa melakukannya kelak seperti mereka?

Saya belajar lagi tentang makna kehidupan betapa pentingnya punya uang dan keluarga yang baik. Ada banyak kebutuhan yang diperlukan selain memikirkan isi perut setelah menikah kelak.

Tentu, semuanya akan baik-baik saja apabila memiliki pekerjaan tetap dan dapat mengandalkan keluarga. Namun itu tidak terjadi kepada saya.

Menyediakan nasi kotak

Kira-kira berapa biaya yang keluarga ini keluarkan untuk menyediakan nasi kotak dan jajanan. Saya tahu mereka berhemat, makanya acaranya tidak begitu banyak mengundang orang untuk hadir.

Setidaknya, bungkusan akan dibagiin usai acara selesai. Saya tahu rumah mana yang ingin saya bagiin nanti. Saat acara, kami hanya mengundang Pak Ustad dan beberapa orang saja.

Kelak, apabila saya menikah dan punya anak pasti saya akan melakukannya juga. Ritual yang wajib dan harus dilakukan sepertinya.

Tapi, apakah saya akan bisa menikmati momen tersebut di saat melangkah maju ke jenjang pernikahan saja masih berpikir 100 kali. Saya sampai ngarep ada wanita kaya yang mau nampung saya sebagai suami seperti di film-film China.

Selamatan bayi ini selain mendoakan, juga potong rambut sebagian. Apakah nama ritual ini?

...

Ada-ada saja pemikiran saya yang penuh perhitungan begini. Namun memang faktanya begitu. Omong kosong orang yang ngomong nanti rejeki akan mengalir dengan sendirinya. Ya, benar bagi sebagian namun tetap saja segala persiapan membutuhkan biaya pada akhirnya.

Apa yang bisa diandalin jika begini? Keluarga yang tidak bagus di belakang dan pendapatan dari blog yang semakin suram. Biarlah, mari ikuti arusnya saja.

Akhirnya saya bisa melihat bayi mereka juga. 

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

📌 Realitas Finansial Juni 2026: Ketika Tagihan Menembus Angka 1 Juta dan Bertahan di Jalur Blogger