Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Apakah Kamu tidak Ingin Menikah?

[Artikel 2#, kategori Pria 38 tahun] Tentunya. Saya masih berharap untuk menikah. Bukan saja karena ibadah, tapi juga sebuah impian di mana laki-laki bisa dikatakan sempurna sebagai pria. Di umur segini (38 tahun), menikah adalah mendapatkan teman ngobrol di sisa hidup yang tak kekal. Saya tidak ingin sendirian terus hingga ajal.

Sudah memasuki bulan pertama dalam perjalanan baru ini. Mendadak saja kata menikah muncul begitu saja saat terbangun dari tidur. Entah kenapa saya ingin menaruhnya dalam blog untuk melanjutkan kisah Pria (tidak) berharga.

Kepantesan

Harapan yang belum padam ini tentu bagus dan positif di saat saya baru menyandang umur yang bertambah menjadi 38 tahun sekarang. Karena mungkin sebagian orang-orang ada yang sudah menyerah dengan yang namanya menikah.

Namun keinginan kuat saya terbentur dengan namanya kepantesan. Apakah saya masih pantas menikah di saat serba kekurangan? Jika harapannya mencari pasangan yang muda dan sedang ingin dimanja, maka saya tidak pantas.

Dari sisi pekerjaan, saya belum pantas. Apalagi bicara keuangan. Jangankan uang, rumah dan harta saja masih numpang. Keluarga? Saya tak yakin mereka berharga.

Satu-satunya yang membuat saya berharga rasanya hanya keinginan kuat. Saya adalah pria setia, tapi entah apakah kata setia masih laku atau sebaliknya? Saya pekerja keras? Tidak juga, saya sedang menikmati kemalasan saya di rumah hingga jarang keluar kecuali bermain futsal atau ada liputan.

Saya adalah teman bicara yang akan mendengarkan dan menyenangkan. Apakah boleh kriteria ini dimasukkan dalam proposal melamar? Memang akan hidup bersama hanya terus mengobrol? 

...

Saya tidak tahu lagi apa yang saya akan tulis dari sekian kelebihan dan kekurangan saya ini. Malah rasanya banyak kurangnya ketimbang lebihnya.

Saya percaya Tuhan masih mencarikan kriterianya yang cocok dengan saya meski saya adalah pecundang. Karena itu, saya harap wanita yang datang adalah pembawa harapan yang penting buat saya kelak. Saya akan melakukan apa saja untuknya jika ia mau menikah dengan saya.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini