Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Hey Lit!


Gambar ilustrasi : Google

Kamu pernah merasa kagum dengan seseorang, atau bahkan menyukainya. Bagaimana rasanya? Menggebu-gebu? Entahlah, aku merasakannya sekarang. Entah bagaimana denganmu.

Beberapa waktu belakangan, kamu menghiasi hari-hariku meski itu lewat situs jejaring sosial. Kamu tak berubah sedikit pun selain dirimu yang semakin bertumbuh menjadi wanita dewasa, cantik dan bibir seksimu yang dari dulu aku kagumi.

Aku berhasil menyapamu. Aku bahagia waktu itu. Ku kirim pesan lewat pesan pribadi dengan harapan komunikasi yang lama terputus bisa kembali. Lama yah, kita tak bertemu dari jaman SMP dulu. Aku mau bercerita bagaimana aku berdiri sekarang (suka dan duka) dan aku juga ingin mendengar bagaimana kamu dengan kehidupan luar negerimu bisa bertahan. Pasti lebih seru.

Aku sadar aku bukanlah pria berkelas yang akan datang melamarmu dan datang mengunjungimu kesana. Sempat berharap saat kamu sudah di negeri tercinta kita ini kamu liburan ke kota ku. Sayang itu hanya mimpi.

Jangan berpikir aku adalah pria romantis yang membuat kisah ini lebih manis atau melihatmu menangis. Aku masih seperti yang dulu, yang suka gangguin kamu dan membuatmu jengkel setengah mati.

Oh iya, saat aku menulis ini kamu tahu aku sedang bersepeda. Entahlah mengapa kamu yang menjadi sumber inspirasi tulisan ini. Aku berhenti sejenak sambil mendengarkan lagu dari Iwan Fals lalu jari jemariku mengerjakan apa yang ada di dalam hatiku.

Bila cinta tak menyatukan kita
Bila kita tak mungkin bersama
Ijinkan aku tetap menyayangimu

...

Hey Lit! Entah apakah ini hanya akan jadi catatan pribadi dalam kehidupanku atau sekedar sampah yang meramaikan jagad internet, aku hanya ingin bilang bahwa 'aku penganggummu'.
.
Soal jodoh kelak, hanya Tuhan yang tahu. Setidaknya aku sudah menggoreskan namamu disini. Semoga kamu bahagia disana dan selalu sukses atas apa yang kamu pilih.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

📌 Realitas Finansial Juni 2026: Ketika Tagihan Menembus Angka 1 Juta dan Bertahan di Jalur Blogger