Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Wanita yang Rindu Anaknya


Jangan pandang tubuh mungilnya seperti wanita pada umumnya di era sekarang yang mudah menyerah dan pergi meninggalkan suami-suami mereka. Wanita ini bertahan karena sebuah alasan kuat, anak-anaknya.


Saya sedang menceritakan ibu saya yang berkunjung ke Semarang untuk menengok anak lelaki pertamanya yang jarang pulang. Seorang wanita tangguh yang pergi meninggalkan kesenangannya di tempat asalnya untuk sekedar bersenda gurau dan menasehatinya arti penting peran seorang ibu.

Anak yang keras kepala tersebut adalah harapan ibunya. Harapan semua keluarganya dan juga motivasi bagi saudara-saudaranya. Entah apa yang ia inginkan dengan sifat kerasnya yang hanya bermodal tekad dan mimpi untuk menjadi manusia seutuhnya.

Ini yang dikatakan seorang ibu kepada pria yang tahun ini berusia 29 tahun. Kapan wisuda, menikah, pergi haji ibunya, pulang, telpon adikmu, rendah diri dan segudang pikiran yang tersimpan di memori setelah anaknya jarang pulang.

Saya sadar tentang keputusan pergi ke Semarang tahun 2007. Apalagi semenjak itu sang anak belajar mandiri, tidak membebani ibunya dan keluarganya, ditambah ia juga dibantu keluarga sahabatnya. Sosoknya kini adalah hasil dari didikan sang pengalaman yang banyak mengajarkan kesetiaan, kebahagian, kesedihan dan keikhlasan.

Sang anak masih belajar menjadi orang baik. Baginya menjadi orang baik sangat sulit. Beberapa hari bersama ibunya, ia seolah mengerti dunia dan tanpa sadar ada tali yang membentang antara jaman sekarang dan jaman dulu.

Produk modern yang sok tahu dan mencari pembenaran. Akhirnya, menjadi orang baik itu tidak cukup dengan segudang ilmu yang dimiliki. Kini, sang ibu sudah kembali ke kota asalnya dan mengikhlaskan dirinya meninggalkan anaknya kembali.

Sang anak? Tetap kekeh dengan pikiran dan mimpi-mimpinya. Yang sebenarnya berharap ingin membuktikan sesuatu kepada ibu dan keluarganya. Hanya saja masih butuh waktu dan waktu.

Love U, Mom!

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Istilah Jam Kerja Hotel; Split atau Double Shift

🚴‍♂️ Perjuangan Main Bola Kamis Malam: Antara ASUS dan Mini Soccer