Kisah Perjuangan Seorang Wanita

Gambar Google

Saya Ingin sekali bisa menjadi seperti ibumu, punya rasa sabar yang luar biasa. Sebuah ungkapan yang dikatakan seorang wanita yang membawa dua putrinya saat menjenguk wanita yang Ingin saya ceritakan disini.


Saya tidak meyangka silaturahmi saya dengan orang-orang yang dekat dengan keluarga saya harus dilakukan di rumah sakit. Suasana haru dan sedih menyelimuti waktu besuk yang diberi jatah antara jam 11-12 siang hari ini.

Sebelum pergi ke Semarang

Setelah lulus SMA, keputusan mengambil kuliah D1 menjadi keputusan yang paling berani yang saya ambil waktu itu. Mengingat, kuliah setahun itu perlu biaya lebih banyak karena durasinya yang pendek. Satu tahun.

Saya bukannya tak mampu untuk mengambil kuliah di kampus yang normal seperti lainnya. Hanya saja saat itu, keputusan sudah diambil dan restu ibu juga mengaminin bahwa saya boleh mengambil keputusan tersebut.

Dari segi ekonomi, keluarga saya cukuplah sederhana. Tidak kaya dan juga masih belum dianggap kelas menengah yang mumpuni seperti sekarang. Perjuangan seorang wanita waktu itu benar-benar terasa, hanya seorang penjual cucur di tiap pasar malam.

Sadar itu seolah beban, saya juga memiliki pekerjaan paruh waktu. Setidaknya menambal uang jajan untuk tidak minta kepada orang tua. Lumayan, meski sekedar menjadi pembersih kaca di sebuah rumah tiap akhir pekan. Rentan waktu kuliah D1.

Perjuangan belum berakhir

Setelah saya berhasil lulus dan ingin mengejar mimpi melanjutkan kuliah di Jawa, perjuangan beliau belumlah selesai. Saya masih memiliki 2 saudara lagi. Di sana, kekuatan seorang ibu masih belum berakhir.

Sadar dengan keadaan dan saya sudah mendapatkan mimpi, saya hanya bisa berujar tentang arti kehidupan. Saya di Semarang tak perlu dibiayai, cukup adik-adik saja yang perlu dibantu. Keputusan tidak pulang juga menjadi bagian sisi dari cerita ini sebenarnya.

Kini, saya sudah berada di Samarinda. Bukan untuk berwisata atau menjenguk keluarga. Saya masih harus melihat perjuangan seorang wanita yang berjuang melawan waktu dan keadaan. Beliau masuk rumah sakit karena serangan mendadak akibat tekanan yang dialami.


Tidak mudah melihat beliau terbaring setelah operasi dan mungkin akan kembali ke meja operasi. Jika perjuangan sebelumnya untuk anak-anaknya, kini beliau berjuang untuk dirinya agar segera sembuh dan pulang ke rumah. Beraktivitas seperti biasanya.

...

Saya mohon doanya saja, semoga ibu saya cepat sembuh. Saat tulisan ini saya tulis, beliau masih dirawat di ruang ICU.


Komentar

  1. Asmarie, saya turut mendoakan dari sini. Semoga lekas sembuh, operasi berjalan lancar. Amin. Al Fatihah

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nonton Film Pengabdi Setan