Membayar Janji

Gambar : Google

Menunggunya butuh beberapa tahun lamanya. Sekedar mengajaknya minum kopi dan basa-basi berharap hati terselamati. Yah, perempuan cantik ini ada dihadapan saya. Wajahnya benar-benar polos tanpa make up seperti biasanya. Memang kurang seksi seperti biasanya ia berbicara saat bekerja. Kesempatan ini tidak mungkin akan saya sia-siakan.

Sebagai laki-laki, saya berharap ini adalah kencan. Pertemuan antara pria dan wanita yang kemudian melanjutkan hubungan yang lebih jauh. Tapi sayang, ini baginya hanya soal menepati janji yang pernah ia katakan tapi belum pernah direalisasikan.

Malam itu sangat indah untuk saya. Terlepas cahaya kerlap-kerlip berwarna-warni menghiasi suasana ruangan terbuka yang kami tempati, bagi saya itu hanya pemanis. Sesungguhnya yang paling manis ada bersama saya sekarang ini.

Karena kami bukan orang yang jaim dan sudah kenal bertahun-tahun meski terbatas, obrolan kami mengalir seperti air. Santai, tertawa, antusias, dan ceplas-ceplos.

Saya yang terbiasa menguasai medan pembicaraan seperti biasa selalu blak-blakan tentang diri saya. Yah, memang ini dalam aturan kencan jangan terlalu diumbar. Tapi saya merasa tidak muda lagi untuk berbual siapa diri saya. Ajaib, semua terasa nyaman malam itu.

Doi yang berwajah polos dan cantik menurut saya ini benar-benar suatu anugerah malam itu. Saya meyakinkan diri bahwa doi saat itu sudah single dan berharap ia menerima proposal cinta saya.

Kata-kata manis, pujian dan hingga hal-hal memalukan yang pernah saya alami adalah berkas yang saya sodorkan untuk mendapatkan perasaannya. Nasi sudah jadi bubur, kalau ditunggu beberapa lama lagi, saya sudah tidak yakin lagi. Menunggunya beberapa tahun sudah cukup untuk memantapkan diri mendekatinya lebih jauh.

Akhirnya, malam itu saya dan doi tidak menuntaskan malam yang masih panjang. Saya masih menjaga situasi dan kondisi bahwa ia seorang perempuan yang tidak boleh pulang malam. Entahlah, bagaimana sebenarnya. Saya hanya menjaga itu.

Sebuah apel merah dan salaman tangan tanpa cipika cipiki menutup malam kencan saya dan janji yang doi akhirnya sudah dibayarnya. Saya akan berjuang mendapatkannya, pikir saya sambil menuju pulang.

...

Beberapa hari kemudian, saya masih berharap dan berharap. Saat mencoba menawarkan berbagai sesuatu seperti makan siang, sarapan atau butuh teman, doi terus berkata tidak. Ini sepertinya kondisinya mulai memburuk.

Dan benar juga. Pertemuan itu baginya hanya sebuah bayar janji. Tidak lebih dan kurang. Saya yang terlalu berharap karena menunggunya. Kata-kata terakhir yang menyakini diri saya untuk benar-benar pergi darinya adalah ia mau fokus dengan kerja dan tidak ingin dekat dengan pria dulu.

Saya langsung teringat mantan dan wanita-wanita yang pernah saya dekatin. Pada akhirnya, itu adalah bahasa halus untuk menolak seorang pria yang meski sudah matang dan berkorban, tetap saja hati tidak tersentuh.

Itulah sebuah janji dari seorang wanita yang saya tunggu beberapa tahun lamanya untuk mendekatinya. Kesibukan kerja, acuh tak acuh karena sudah punya pasangan waktu itu ternyata hari ini tetap sama. Saya tidak mendapatkan hatinya. 

Saya sedih tapi bukan berarti saya rapuh. 


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tips Maksimalkan Internet Indosat Ketika 4G Lelet