Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Masih Gagal Jalan Kaki Dari Rumah ke Rumah Sakit


Saya sedang berexperimen soal jarak dari rumah (Air hitam/Kadrie Oneng) ke Rumah Sakit A.Wahab Sjahrani. Apakah sangat jauh? Experimen ini juga bukan asal nekat karena kebiasaan di Semarang yang terbiasa bersepeda, tapi lebih tuntutan rutinitas olahraga jalan kaki. Maklum saja, manajemen waktu untuk olahraga selama di Samarinda benar-benar kacau. Mungkin ini alternatifnya.


Hari ini lagi-lagi saya gagal mencoba rute dari rumah ke RS.AW.Sjahrani atau sebaliknya. Penyebabnya sederhana, itu terlalu bodoh untuk dilakukan. Apalagi siang bolong dengan terik matahari yang lumayan panas (efek diselimuti asap, jadinya nggak terlalu panas).

Ungkapan bodoh ini datang dari orang sekitar saya mengingat apa yang saya lakuin itu tidak wajar. Selain mengeluh jaraknya yang begitu jauh, sinar matahari sepertinya begitu menjadi momok disini.

Sempat sudah jalan lebih dari 500 km (bawa tas, tumbler, dan topi), saya sudah disamperin keluarga. Disuruh ikut dia, ntar dianterin, katanya. Karena merasa tidak enakan, saya akhirnya mengikutinya. Taruh pantat di jok belakang motor dan saya kembali ke rute awal (sekitar rumah).

Yah mau gimana lagi. Sudut pandang tentang apa yang saya lakuin dengan kebiasaan seperti ini ternyata belum sepenuhnya disukai. Meski saya mengatakan bahwa semua ini juga demi kesehatan, termasuk menyodorkan aplikasi google fit. Aplikasi pencatat kesehatan. Dari aplikasi tersebut, saya yang terbiasa pagi-pagi olahraga jalan kaki biasanya menghabiskan jarak sekitar 3 km kurang. Jadi biasa, bukan.

Saya tidak akan menyalahkan siapa pun soal ini. Masih butuh proses dan pembuktian. Setidaknya saya berhutang disini kepada diri saya sendiri. Semoga akhir pekan ini bisa dilakukan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini