Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Ketika Rasa Nyaman di Rumah Diambil Alih


Semua tampak sibuk dan lebih sibuk daripada biasanya. Kedatangan mertua dan keluarga kecil yang sudah setahun menikah ini, membuat kehidupan di rumah benar-benar berubah. Lebih ramai, tapi tidak begitu menyenangkan.

Pernah mengalami keadaan dimana yang sudah terbiasa dilakukan tiba-tiba jadi tidak biasa dilakukan karena ada yang berbeda dan baru? Saya mengalaminya. Itu tidak mengenakkan. Sebagai pemuja rasa sepi demi bekerja dan sudah dilakukan bertahun-tahun, jadi gimana rasanya saat suasana merasa terganggu. Mungkin begitulah perasaan suasana penunggu rumah yang merasa terusik.

Hampir 1 pekan ini semenjak kedatangan mertua si adik perempuan Difa, kehidupan sunyi yang selama ini jadi bagian dari aktivitas saya memberi tekanan yang luar biasa.

Saya pikir, tekanan tertinggi ada pada kedatangan bos besar (baca ortu Difa), ternyata tidak. Ini lebih parah dan membuat saya benar-benar kebingungan.

Berusaha menyesuaikan

Tidak ada yang salah dengan keadaan sebenarnya. Bahkan, kedatangan mereka ke rumah membawa warna sendiri. Ada banyak makanan enak, suasana baru dan tentu orang-orang baru.

Di sanalah kesalahan saya yang selama ini hidup di rumah. Saya lebih suka dengan suasana sunyi, kehidupan yang itu-itu saja (kebiasaan), dan keluarga Causeway utama (pemilik rumah).

Karena keadaan ramai dan mereka orang baru buat saya, jadilah saya sendiri yang kelimpungan. Ada perasaan gimana gitu ketika biasanya nyaman jadi tidak nyaman.

Saya sedang berusaha menyesuaikan mengingat ini mertua si adik. Saya berpikir ini sudah waktunya pergi dari rumah ini kalau begini. Ini bukan rumah saya, saya hanya numpang bersama keluarga.

...

Entahlah apa yang terjadi seminggu ini dengan keadaan dan suasana hati saya. Saya benar-benar terusik. Biasanya melakukan ini itu tiba-tiba terkekang tidak dapat berbuat apa-apa.

Rasa tidak enak, terganggu, tidak nyaman dan masih banyak lagi. Keadaan ini mengajarkan saya untuk rendah diri, sadar dengan kehidupan pribadi dan tentu sadar sebagai manusia yang sekedar numpang di rumah orang.

Bismillah!

*Setelah dipikir-pikir ini sepertinya sebuah takdir yang diatur. Sebelumnya saya kedatangan keluarga Causeway (Henry), dan suasananya banyak rasa cinta, kegembiraan dan suka cita. Dan mungkin Tuhan tahu bahwa hidup harus seimbang, kedatangan mertua ini adalah jawaban dari keseimbangan yang Tuhan berikan. Dan mau tidak mau, manusianya harus menerima konsekuensinya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini