Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Semakin Memprihatinkan


Rasa benci tanpa solusi membuat saya hanya bisa diam tanpa basa-basi. Mau marah, tapi bingung bagaimana mengeluarkannya. Besi lawan besi yang terjadi adalah api. Apakah hidup memang harus begini?

Saya takut suatu hari saya lupa ingatan dan melupakan banyak kenangan. Eh, sudah serius aja. Selamat weekend hari ini, (27/2). Tidak terasa sebentar lagi meninggalkan bulan februari. Oh ya, bulan februari ini saya baru tahu kalau tanggalannya sampai 29, hehe..

Saya sedang berada di titik rendah sebagai kakak yang tak berguna bagi adik-adiknya dan keluarga. Untuk umur yang menginjak 30 tahun, saya adalah pria yang belum mampu menjawab pertanyaan berapa gajinya sebulan.

Jangankan berpikir bagaimana mendapatkan uang dari aktivitas ngeblog, beli pulsa saja seakan menjadi sesuatu yang disebut orang mampu. Makanya tidak banyak wanita yang diajak nonton. Mengajak berarti mentraktir. Iya kalau responnya bagus, kalau nggak. Sudahlah..curhatnya kemana-mana.

Semakin memprihatinkan

Saya tidak bermaksud membuka aib diri saya sendiri atau keluarga saya. Ini hanya sebuah ungkapan dan curhat saya tentang beban pikiran yang saya alami.

Saya sedih, galau dan marah ketika adik saya cerita tentang kehidupannya yang menggantikan posisi saya. Saya akui, doi punya pemasukan yang jauh lebih besar daripada saya.

Tapi masalah utamanya bukan itu, adik saya yang lain semakin memprihatinkan. Kelakuan yang diluar batas tersebut membuat saya marah dan marah.

Saya bingung mengapa saya harus marah tanpa memberinya solusi. Saya bingung untuk mendapatkan solusi sedangkan saya juga kesusahan di sini.

Dan begitulah kehidupan saya akhir-akhir ini. Ibaratnya mau makan, terus ngeluh lapar, tapi nggak punya uang. Mau marah, kenapa? Bantu dong mereka.

...

Saya saran jangan jadikan aktivitas ngeblog sebagai pekerjaan utama bila tidak mampu. Karena sebagian besar yang mengaku blogger saat ini, yang saya kenal, mereka punya pekerjaan utama. Bila ada pun bisa dihitung dan itu juga karena status jaringan dan tinggal di alam berbeda (kota).

Disatu sisi ngeblog itu adalah panggilan dari hati, satu sisi mempertahankannya sama saja menjauhkan dari semua orang yang kita cintai. Ambisi, fokus, naif, dan ingin membuktikan merupakan kombinasi kompak menghancurkan kedekatan kita bersama yang lain.

Semoga setelah ini, ada yang saya ceritakan dengan rasa bangga. Layaknya kisah sinetron, kisahnya di dunia nyata tidak dapat dihitung hanya beberapa jam.

Tetap semangat saudara-saudaraku!

Komentar

Postingan populer dari blog ini