Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Tantangan Grup Komunitas yang Sepi


Selamat datang bulan Mei 2016. Kira-kira takdir saya bulan ini seperti apa ya? Semoga bisa sedikit bahagia. Ngomongin awal bulan, saya tiba-tiba ingin ngebahas komunitas yang ada di grup Whatsapp (WA). Ada apa memangnya?

Setelah meresmikan komunitasnya di Semarang, Smartfren membuat grup di WA. Mungkin disetiap kota, mereka membuatnya dan tentu ada koordinatornya. Harapannya tentu, interaksi dan komunikasi terjalin dengan baik buat kedepannya.

Ketika grup sepi

Beberapa hari ini, grup yang saya ikuti mendadak sepi. Blogger Semarang dan Smartfren pun tiba-tiba adem seperti iklan minuman penyegar. Dikasih air langsung beriak kemudian didiamkan akan tenang dan tidak berbuih seperti sebelumnya.

Entahlah, mengapa saya malas berinteraksi di sana. Untuk grup sendiri, saya juga bingung. Mau nagih postingan yang belum update kesannya ngejar-ngejar. Pasti nggak enak dikejar-kejar itu. Seperti penagih hutang saja.

Sedangkan grup lainnya, kordinatornya bakalan sangat resah dan galau. Kok sepi. Aku ngajak ngorbol nggak ada yang nanggapi, yaudah diam semuanya.

Tantangan grup komunitas

Mungkin antara prasangka baik dan buruk sudah berteman dari dulu, makanya yang biasanya baik tiba-tiba jadi jahat.

Banyak hal yang menyebabkan mengapa grup terlihat sepi. Mungkin saja kuota internetnya habis, kalau sampai sebulan itu kebangetan. Sibuk kerja sehingga malas, dan terlalu berisik sehingga buat bete.

Inilah tantangan sebuah grup komunitas. Bukan saja berimbas kepada pentolannya tapi kesemuanya. Saya sangat salut kepada grup yang begitu ramai. Meski akhirnya ditinggal pergi satu persatu dengan alasan topik yang dibahas tidak relevan.

Lalu, harus seperti apa biar grup tetap jalan dan ramai. Entahlah... Saya juga semakin bingung dengan era sekarang. Semakin maju teknologi, semakin irit orang berinteraksi. Saya mengakui diri saya pun demikian.

...

Ini bukan saja menjadi PR buat saya sendiri, tapi buat orang-orang yang ngebangun interaksi di grup komunitas. Bila anggotanya sampai ratusan, tentu tidak mungkin adem ayem juga. Saya yakin itu.

Lalu, saya coba berpikir sedikit tentang tujuan saya membangun grup. Ada hal-hal penting yang memang harus dibagi dan tidak. Untuk mengupdate sesuatu, grup akan lebih cepat ditanggapi.

Jadi, biarkan saja grup sepi untuk beberapa saat. Kita semua punya kehidupan masing-masing, grup bukan untuk melihat rutinitas kita untuk dibagi. Takutnya tidak nyambung dan malah keluar.

Begitulah tantangan grup komunitas, baik yang ada di grup chat maupun socmed. Tetap semangat dan positif.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

📌 Realitas Finansial Juni 2026: Ketika Tagihan Menembus Angka 1 Juta dan Bertahan di Jalur Blogger