Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Metode Brainwriting yang Gagal Dieksekusi


Bulan April lalu, saya mengenalkan dan mencoba metode brainwriting saat acara kopi darat bareng teman-teman blogger. Saya pikir ini akan mudah dan berjalan lancar saat dituangkan dalam postingan blog. Ternyata tidak sesuai harapan saya.

Entahlah, saya bingung juga mengapa ini juga gagal. Padahal ide-idenya yang dituangkan lewat kertas yang sudah ditulis tinggal dikembangkan saja dalam sebuah postingan di blog pribadi.

Saya pikir alasannya lebih karena kebanyakan ditunda. Menunda ide untuk dikeluarkan itu memang fatal jadinya. Ide tersebut lari begitu saja dan kadang mood mempengaruhi mr.ide pergi lebih jauh.

Meminta mereka memberi tanpa disuruh kadang juga tidak enak. Menagih kok seperti tukang tagih asuransi, sama-sama nggak enak. Pada akhirnya saya menyerah dengan mereka. Metode yang sebenarnya saya ingin praktekkan kembali, sepertinya tidak mungkin lagi.

...

Kodrat manusia memang tidak dapat dipaksakan, dan dimengerti. Dipaksain pasti mereka pergi, dimengerti malah lebih parah. Inginnya benar, disinggung dikit malah tanpa pamit.

Mari minum kopi lagi, biar terasa plong pikiran karena kebanyakan mikirin orang lain.

Artikel terkait :

Komentar

  1. Setiap orang memiliki karakter masing-masing dalam menulis blog. Meski di awal udah nulis topik yang mau dibahas, aku yakin mereka masih setengah hati untuk menulis topik itu. Atau mungkin tema topik yang tidak sesuai dengan karakter mereka. Beda lagi, ketika mereka dituntut untuk menulis topik yang memang seharusnya ditulis, maybe jadi pekerjaan mereka. Aku yakin itu akan ditulis meski kadang udah lelah nulis saking panjangnya, dan diatur-atur topik + keyword.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini