Mana yang Harus dipilih, Seks atau Cinta yang Lebih Diinginkan?


[Ini adalah artikel ketiga kategori Seks di blog ini] Saya berharap saat Anda membaca ini ketahui dulu bahwa saya adalah pria berusia 30 tahun. Artikel ini dimaksudkan untuk menambah referensi saya sendiri dan memberi informasi kepada pembaca berusia dewasa. Terima kasih untuk perhatiannya.

Kemarin saya sudah ceritakan bagaimana saya memulai sebagai Pria Masa Depan. Ini tidak mudah. Apalagi saya belum memiliki pasangan hingga usia ini. Dengan hadirnya artikel yang lebih dewasa, saya ingin mempersiapkan diri saat jodoh saya kelak datang. Apakah Anda tersenyum? Saya juga tersenyum saat menulis ini. Tidak terasa waktu berlalu rasanya.

Seks Bagi Pria dan Wanita tentu berbeda

Dalam postingan ini saya mengambil artikel dari web Intisari. Website mereka selalu jadi favorit untuk saya, terutama isinya yang benar-benar menarik. Anda boleh coba membuka halaman mereka.

Mungkin sangat jelas terlihat itu artikel copas, tapi saya tidak ingin membuat Anda ribet untuk mengklik url utama mereka. Anda tak perlu berpindah-pindah karena artikel ini sudah saya masukkan sumber utamanya.

Ngomongin soal seks bagi pria dan wanita tentu berbeda. Pria bermain dengan logika, sedangkan wanita dengan perasaaan. Meski begitu semuanya bisa dibolak-balik. Nanti saya beritahu intinya dibagian kesimpulan.

(Intisari)

Seks yang didasari cinta tentu memberikan sebuah makna yang lebih hebat dibandikan seks yang didorong oleh nafsu semata. Namun, jika harus memilih, seks atau cinta yang lebih diinginkan?

Nyatanya, seks dan cinta punya posisi yang sama kuatnya. Keduanya tak terpisahkan, bahkan otak memegang peranan untuk membangkitkan perasaan dan hasrat agar seks dan cinta berjalan seimbang.

Meski seks dan cinta sama kuatnya, namun kecenderungan pada umumnya terdapat perbedaan persepsi pada perempuan dan laki-laki. Perbedaan ini dikarenakan otak laki-laki dan perempuan memang berbeda. Tipikal laki-laki lebih logis dan cenderung kepada visual seks.

Sedangkan perempuan lebih sering berkecimpung dengan perasaannya. Perempuan lebih emosional, ingin dilindungi, dan tak ingin ditinggalkan. Sedangkan laki-laki lebih mandiri. Namun toh perbedaan ini tak lantas mengeneralisasikan laki-laki lebih memilih seks dan perempuan lebih memilih cinta.

"Manusia itu personal, kita tidak bisa bilang perempuan lebih memilih cinta atau laki-laki lebih memilih seks. Meski ada cinta, seks belum tentu juga ada di dalam hubungan. Tidak lantas 100 persen bisa mendapatkan seks dari cinta. Cinta tanpa seks bisa saja terjadi, namun memang kasus seperti ini masih minoritas," jelas seksolog dan spesialis andrologi, dr Heru Oentoeng, SpAnd, dalam bincang-bincang mengenai "Seks, Love and Human Brain" di Klinik Angsamerah, Menteng, Jakarta, Jumat (11/2/2011) lalu.

“Di sisi lain, melakukan seks tanpa cinta bisa saja terjadi. Dan hal ini bisa terjadi pada perempuan dan laki-laki. Keduanya bisa melakukan seks tanpa cinta. Justru perempuan lebih mudah menikmati seks tanpa cinta. Sebaliknya, laki-laki akan lebih sulit menikmati seks tanpa cinta, karena laki-laki harus punya keinginan seksual untuk bisa ereksi. Dan kunci hubungan seks pada laki-laki adalah dengan adanya ereksi,” ujar Heru.

Pilihan antara seks dan cinta seharusnya memang tak pernah ada, karena setiap individu tak bisa memilihnya lantaran keduanya saling menguatkan. Martine Cassagrande, pakar penyembuhan holistik dan pelatih yoga, mengatakan bahwa perempuan maupuan laki-laki mencari sesuatu yang sama.

Menurut Martine, laki-laki dan perempuan mencari pasangan yang menarik, yang punya ikatan emosi, terlihat sehat secara fisik, karena pada dasarnya setiap orang mencari pasangan yang sehat untuk memenuhi kebutuhan reproduksi. Meski fisik atau visual penting, namun cinta akan lebih tahan lama karena perasaan cinta lebih mendalam, lebih spiritual yang di dalamnya ada romantisme, rasa peduli, dan bukan sekadar hasrat.

"Tanpa cinta tidak akan ada tujuan. Pasangan memiliki sesuatu yang spesial karena merasa dicintai. Seks bukan sekadar penetrasi karenanya sertakan cinta di dalamnya untuk bisa menikmati seks yang indah. Dan otak bisa dipandu untuk mendapatkan seks yang indah ini, karena otak manusia bisa dilatih," jelas Martine.

Ahli kejiwaan dr Ratna Mardiati, SpKJ, menambahkan manusia bisa memandu otak untuk membangkitkan selera, termasuk di dalamnya hasrat seksual. Jadi, jika menginginkan seks yang memuaskan, setiap individu bisa mengandalkan otaknya.

"Yang harus dibangun adalah relasi dalam berpasangan agar hormon oksitosin keluar. Oksitosin pada perempuan dan laki-laki inilah yang menjadi pemicu kedekatan. Dan seks atau bersetubuh adalah mengenai kelekatan antara dua individu," jelas dr Ratna, menambahkan hubungan saling memengaruhi antara cinta, seks, dan otak inilah yang menguatkan pasangan. "Orang yang tidak memiliki pasangan oksitosinnya cenderung rendah."

Ia juga menekankan pentingnya membangun relasi berpasangan untuk menguatkan cinta dan mendapatkan seks memuaskan sebagai bonusnya.

...

(Kesimpulan) Saya belajar dari pengalaman bahwa seks belum dibutuhkan saat Anda belum memiliki cinta kepada seorang wanita.

Mengapa bisa memiliki hasrat seks sebelum memiliki cinta? Mungkin bisa dibilang itu jajan, bahasa nakal pria atau wanita yang sedikit paham soal begituan. Biasanya terjadi karena dorongan seksual yang didapat seperti pengaruh film atau bacaan.

Itu dibeli dengan uang (semisalnya) tapi itu bukan berarti cinta, hanya sebuah dorongan seksual. Sebaliknya, saat pria berani melakukan hal yang sudah tahu dilarang agama, biasanya itu adalah cinta.

Pria benar-benar jatuh cinta saat itu. Dan saat cinta itu pergi, pria bisa terluka bukan karena tidak adanya seks tersebut. Tapi perasaan cinta.

Saya tidak menganjurkan untuk itu dan saya berharap jangan melakukan hubungan seks sebelum menikah. Meski kenyataannya sudah sulit diterapkan.

Sumber original konten klik di sini.

Artikel lainnya :

Komentar

Postingan populer dari blog ini