Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Berharap Tempat Cuci Itu Bersih



Dulu saya tidak tahu kenapa alasan ibu saya menyuruh saya mencuci piring selain meringankan pekerjaan rumah. Apalagi saya anak laki-laki yang berpikir bahwa itu pekerjaan wanita. Kini saya tahu, itulah takdir saya.


Tahun 2015

Saya baru saja selesai membereskan rumah. Duduk sambil memegang smartphone yang seolah mengalahkan eratnya hubungan dengan pasangan. Ya, kalian pasti tahu status lajang saya diusia sekarang.

Mata ini melirik pada pekerjaan yang belum selesai. Tempat cuci piring! Lumayan banyak dan berserakan yang mungkin bagi sebagian pria membiarkan itu ada disana adalah hal biasa.

Apakah aktivitas dulu sewaktu kecil adalah kunci jawaban diusia sekarang? Saya seolah terbiasa melakukannya. Berarti ibu saya benar, mau perempuan atau laki-laki cuci piring itu harus bisa.

Masa kecil seolah membawa saya pergi ke ruang waktu dimana dulu saya pertama kalinya disuruh mencuci piring. Kerasnya saya dan rasa hormat menuruti kata ibu saya menjadi pelajaran berharga dikala usia menginjak dewasanya pria.

Mungkin saya akan jadi kepala rumah tangga suatu hari kelak yang bisa membantu pasangan. Atau juga, saya melampiaskan diri saya tanpa berbuat apa-apa saat melihat pasangan. Entahlah, saya sempat membaca sebuah website tentang mencuci piring bahwa tubuh yang ada disana akan terlihat seksi.

...

Kadang membiarkan sesuatu yang dirasa tidak baik, membuat hati sangat gelisah. Orang yang disuruh dan terbiasa malah menikmati jam tidurnya yang panjang. Rasanya sia-sia bila setiap hari diberitahu.

Sesekali bolehkan, saya tidak setia pada prinsip. Laki-laki yang baik bukan selalu memberitahu, hanya saja membiarkan terjadi lalu diam sambil nonton tv bukankah membuang pikiran negatif. Ah, semoga sadar adalah harapan kecil dari apa yang selalu dinanti.


Komentar

  1. ya, kita senasib hahaha, lagi nggak asik banget di kos, dapur selalu berantakan habis pulang dari pergi. Selalu ada piring kotor, masakan berantakan, lantai menjijikkan, harusnya pulang itu langsung tidur sih, setiap malem harus bersih2 dulu deh, tidur = harus bersih = nyenyak. Dan kalimat terakhir, pengen teriak

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini