Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Saya Benci Menjadi Penonton di Kota Sendiri


Berilah contoh yang baik, jika menginginkan sesuatu yang baik. Begitu kalimat yang sering kita dengar. Contoh yang baik akan menumbuhkan rasa ingin meniru yang baik pula.

Salam pembuka tersebut saya kutip dari buku tentang personality plus. Saya ingin bilang bahwa menjadi baik itu dambaan semua orang tapi menjadi baik itu juga tidak mudah.

Akhirnya hari ini saya meninggalkan bulan November. Bulan yang penuh menjengkelkan bila harus jujur saya katakan. Bahkan menjelang akhir bulan pun saya tetap dibuat jengkel.

Apa-apaan ini. Sebagai blogger saya gagal di tempat tinggal sendiri. Saya hanya jadi penonton. Tak berbuat apa-apa dan sibuk dengan kegiatan membersihkan rumah atau depan komputer.

Banyak acara yang dilaksanakan di Semarang ternyata peran saya hanya memantau. Beberapa akun yang seliwiran pun saya kenal dan aneh melihat mereka disana tanpa saya seperti biasanya.

Mungkin karena saya tidak lagi berjejaring diantara akun socmed Semarang, makanya akses informasi sangat terbatas. Mengandalkan undangan yang kadang meminta seat untuk mengundang yang lain. Ya, meski akhirnya yang diberi ada yang datang ada yang nggak.

Saya sadar sudah kalah langkah. Ambisi menjadikan blogger sebagai profesi sepertinya masih sulit kalau begini. Jangankan menaklukkan Indonesia, Semarang saja masih cenat-cenut.

Dan paling membuat saya geli adalah hadirnya akun foto sharing yang platformnya instagram nimbrung disana. Lho, dapat potongan kue juga? Padahal kekuatan utamanya ada di platform foto kenapa ke akun burung biru. Ini benar-benar pukulan hit berkali-kali yang seolah mengatakan, kamu tidak ada apa-apanya sekarang. Dotsemarang sudah tua, tolong diam saja.

...

Saya hanya ingin jadi orang baik, itu saja. Cukup! Nyatanya banyak peniru yang baik juga dan kue-kue yang dulu saya nikmati akhirnya terpotong-potong. Saya bukan membenci hanya ini soal ambisi dan tempat curhat saya.

Saya marah. Tapi pada diri sendiri. Kenapa dengan saya ini? Saya kira sudah bekerja keras, nyatanya masih harus lebih keras. Saya benci menjadi penonton di kota sendiri tanpa berbuat apa-apa.

Selamat datang bulan desember, saya berharap moveon dari semua yang terjadi. Saya akan pertimbangkan untuk menjadi orang egois untuk bulan ini. Saya harus menutup akhir tahun dengan sesuatu yang lebih menarik.

Gambar ilustrasi : Taman Cerdas Samarinda

Komentar

Postingan populer dari blog ini