Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Tidak Percaya Diri Lagi


 Selesai sudah acara hari ini. Pikiran saya langsung bergegas ingin pulang. Maklum naik sepeda, waktu dan tenaga rasanya lebih utama untuk pria seusia sekarang. Saya malas berfoto diakhir acara, tak bermaksud menghina atau menolak. Namun ini lebih dari sekedar mengikuti kata hati dan tidak percaya diri lagi.


Entahlah, mengapa tahun 2015 ini saya seolah-olah menjadi pengecut. Orang melihatnya mungkin saya adalah pribadi yang tidak menyenangkan sekarang atau terlalu sombong dengan masa lalu. Tapi biarlah itu terjadi pada saya. Saya hanya ingin melindungi diri saya saja saat ini.

Masa lalu yang menyenangkan

Mungkin bila dipikir-pikir alasan saya selalu mengurangi berkegiatan seperti foto, sosialisasi atau lainnya lebih soal cerita masa lalu yang begitu menyenangkan. Saya sekarang lebih fokus dengan target dan target. Apakah saya bisa finish tepat waktu atau saya sekedar berbisnis dengan diri saya yang banyak menghabiskan pergi ke bioskop tiap hari kamis.

Masa lalu yang menyenangkan adalah diri saya yang paling membanggakan. Terlepas dari siapa saja yang merasa tersakitin karenanya, saya sangat senang dulunya. Punya nilai bangga, nilai kebersamaan, kepemimpinan dan juga nilai kegotong royongan alias keluarga.

Kini, semua sudah berlalu. Semua sudah menjadi masa lalu. Saya merasa ini waktunya kehidupan terbalik buat saya. Saya sekarang adalah seorang pengecut, malas bergaul, dan fokus yang bukan berarti sombong.

Yang sekarang saya hanyalah tidak ingin merasa sedih, tersakiti dan tidak ingin peduli. Cukup sudah saya memiliki segalanya dimasa lalu. Toh, sekarang saya jadi sendiri juga akhirnya.

Saya jadi ingat bagaimana ketika teman pergi meninggalkan saya dan teman-teman pada saat ia pergi naik kapal. Kami, dotsemarang mengantarkannya pada waktu itu. Sebagian ada yang membawa barang, sebagian menyisihkan uang buat bekal. Waktu itu menyenangkan.

Saya berharap itu semua terjadi pada saya. Tapi, ketika semua pergi tanpa ada yang peduli. Tanpa memberitahu, mengundang, memberi ucapan dan lainnya, saya selalu marah jadinya. Saya ditinggal sendiri di kota ini dengan beban yang begitu besar.

...

Bismillah, tahun 2016 adalah waktunya saya melepas beban bayang-bayang ini. Sudah cukup saya menerima beban atas nama dotsemarang di kota ini. Saya ingin menjadi pribadi yang lebih baik tanpa adanya masa lalu. Yang akan tidak berubah adalah saya tidak ingin peduli lagi.

Saya tidak ingin menjadi baik sehingga mendapat respect dan teman. Saya lebih senang mendapat musuh yang mengingat saya karena kompetisi bukan sebuah keluarga yang mengaku keluarga.

**Posting ini adalah terapi tulisan

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini