Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

5 Cara Menjaga Kesehatan Otak


Saat ini, harta yang paling berharga bagi saya adalah kesehatan otak. Karena inilah saya bisa tetap menulis blog hingga sekarang. Sama seperti mesin, otak butuh dijaga dan dirawat. Berikut ini 5 cara merawat kesehatan otak.

Saya mencoba menscroll ke bawah halaman blog saya ini. Label atau kategori apa saja yang masih sedikit untuk diisi konten. Begitulah cara saya mempertahankan mood menulis saya agar selalu mendapatkan semangat.

Label kesehatan ternyata ada 10. Sudah lumayan bisa dibilang. Beberapa label malah ada yang cuma isinya 2. Duh tantangan sendiri rasanya.

Cara menjaga kesehatan otak

Kembali soal kesehatan otak, saya menyadurnya dari situs intisari. Nanti lebih lengkapnya, saya sudah taruh link buat melihat yang versi originalnya. Dari sekian cara, bersepeda ternyata masuk juga untuk menjaga kesehatan otak. Langsung saja,

1.Olahraga
Pengamatan studi secara konsisten telah menemukan, seiring bertambah nya usia pada orang dewasa dan orang lanjut usia, olahraga secara rutin dapat menurunkan risiko demensia. Olahraga aerobik khususnya bersepeda atau berjalan, tampaknya sangat bermanfaat bagi kesehatan otak.
Scan otak menujukkan bahwa latihan aerobik dapat meningkatkan aktivitas otak. Selain itu juga menghasilkan sel-sel otak yang baru dan koneksi yang bagus diantara mereka. Sebenarnya tidak hanya aerobik saja, olahraga lain juga dapat membantu untuk menjaga kesehatan otak kita. Contoh seperti latihan kekuatan.

2. Merangsang kesehatan mental
Jika otak tidak dilatih, tentu ia akan kehilangan kemampuannya. Cobalah untuk membaca, mengambil sebuah kursus, mengisi sebuah teka-teki, atau mengejar hobi yang membuat kita berpikir. Hal itu tak lain bermanfaat untuk kekuatan pikiran dan kesehatan otak kita. Melatih otak dapat ‘memperkaya’ kehidupan kita, membuang kebosanan, dan membantu mengobati depresi.

3. Menjalin hubungan sosial
Aktif secara sosial membantu menjaga kemampuan kognitif. Menurut banyak penelitian, ia juga dapat mengurangi risiko demensia pada orang lanjut usia. Termasuk studi tahun 2011 Rush University Medical Center di Chicago. Studi itu mengatakan, kegiatan sosial dapat membantu ingatan seseorang menjadi lebih tajam. Selain itu, hubungan sosial juga dapat bermanfaat pada fungsi otak lainnya.

4. Menjaga tekanan darah
Jangan pernah anggap remeh tekanan darah kita. Hipertensi yang tidak diobati dapat meningkatkan risiko penurunan kognitif. Hipertensi juga dapat meningkatkan demensi pada orang lanjut usia. Studi dari Women’s Health Initiative, wanita di atas 65 tahun yang memiliki tekanan darah tinggi, akan berisiko untuk terserang demensia.

Bahkan melukai pembuluh darah kecil di otak hinga menyebabkan stroke. Cobalah untuk menurunkan tekanan darah kita degan melakukan diet sehat dan olahraga.

5. Menjaga berat badan
Ternyata obesitas tidak hanya berkaitan dengan kesehatan kardiovaskular saja. Obesitas terutama di bagian perut, telah dikaitkan dengan peningkatan risiko demensia. Contohnya, sebuah studi neurologi di Swedia yang diikuti 1.500 wanita paruh baya selama 30 tahun.

Mereka yang memiliki rasio pinggang ke pinggul di atas rata-rata, dua kali lebih mungkin untuk mengembangkan demensia setelah usia 70 tahun, dibandingkan perempuan langsing. Hal itu disebabkan oleh faktor-faktor yang sering berjalan berbarengan dengan obesitas. Seperti hipertensi, diabetes, hingga kurangnya aktivitas fisik. 

...

Semoga bermanfaat buat yang baru tahu. Dan untuk blogger, ini sangat rekomendasi.
Sumber link klik di sini.

Artikel terkait kesehatan :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

📌 Realitas Finansial Juni 2026: Ketika Tagihan Menembus Angka 1 Juta dan Bertahan di Jalur Blogger