Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Ikutan Acara Museum Ranggawarsita Memperingati Hari Museum Indonesia


[Artikel 64#, kategori aktivitas] Bagaimana rasanya pagi-pagi sudah bersepeda dari rumah sekitar jam 6.30 wib menuju Museum Ranggawarsita? Untuk alamat rumah sendiri ada di jalan Gajah Raya. Dan harus tiba sebelum pukul 07.30 wib di sana? 

Karena masih pagi, total jarak menurut google map sekitar 8,9 km, saya sangat menikmatinya. Lelah yang saya rasakan seolah tak berarti ketika akhirnya tiba sebelum waktu yang saya targetkan. 

Seperti biasa, saya hanya membawa satu baju ganti yang kebenaran sudah dititipi panitia untuk menggunakan pakaian atas berwarna hitam. 

Belum banyak orang yang datang

Saya sempat apes saat melewati jembatan Kalibanteng, mata saya kelilipan. Belajar dari pengalaman, saya paling bermasalah kalau sudah kena mata dikucek pakai tangan.

Alhasil, saya membiarkan mata saya kelihatan berair agar kotoran yang masuk keluar dengan sendiri. Beberapa kali saya mengusapnya dengan handuk yang saya bawa.

Saat tiba di Museum Ranggawarsita, ada banyak orang yang duduk (bukan peserta). Sempat tidak percaya diri juga saat mengunci sepeda dengan mata yang terasa perih.


Bus yang super panas

Seharusnya saya membawa dua pakaian kalau gini. Karena acara gratis dan saya tahunya diajak, saya sebenarnya tidak mempermasalahkan kendaraan apa yang membawa rombongan yang kebanyakan mahasiswa ini.

Tapi tetap saja, panas yang dirasakan di dalam bus yang hanya menyediakan kipas angin kecil, membuat rasa nyaman sangat berkurang. Semoga ke depan, panitia semisal ngadain acara lagi tahun depannya, memikirkan ini.


Berkunjung ke museum-museum

Tujuan pertama kami adalah museum Rekor Indonesia atau MURI yang terletak di Semarang atas. Untuk menuju ke sini, bus melewati tol. Dan saat tiba, saya hanya bisa berkata 'akhirnya bisa menginjakkan kaki di sini dengan momen yang tepat'.

Ada yang menarik di sini. Kita bisa masuk gratis (termasuk kamu nanti di luar acara ini) hanya dengan memfollow akun Instagram museum. Setelah menunjukkan bahwa akun kita sudah mengikuti, kita dapat mengakses tempat yang berisi banyak koleksi rekor. Termasuk museum jamu yang tersedia di sebelah ruangan.

Destinasi kedua adalah museum perkembangan Islam yang berada di menara Masjid Agung Jawa Tengah. Saya sudah beberapa kali berkunjung ke sini. Tidak begitu antusias sebenarnya, namun tetap saja seru dengan ikut acara seperti ini. Apalagi ada guide yang memberi penjelasan tentang museum.

Terkahir, museum Mandala Bhakti. Ini juga perdana saya masuk setelah sekian lama cuma sekedar lewat atau berada di kompleks Mandala Bhakti. Di sini, dengan seorang pemandu, kami seperti dikejar-kejar waktu karena tenggak waktu yang diberikan sangat terbatas. Saya benar-benar kehilangan fokus di sini.


..

Selain saya, ada beberapa bloger dan wakil dari Genpi Jateng yang turut serta. Tidak banyak bloger yang ikutan. Sepertinya mereka hadir seperti saya, yaitu diajak.

Acara pun berakhir dengan kembali ke museum Ranggawarsita. Ada prasangka baik ketika orang-orang seperti saya harus menandatangi semacam absen dengan kolom tanda tangan. Ternyata itu tak terjadi. Kecewa tentu saja.

Sekarang tinggal capeknya pulang. Setelah sempat ngobrol agak lama dengan teman-teman bloger, saya kembali mengayuh sepeda dari Museum Ranggawarsita menuju rumah. Ini sangat melelahkan. Memang lebih baik saat pergi ketimbang pulang kalau urusannya seperti ini, naik sepeda.

*Seperti biasa, nanti akan saya publish di blog dotsemarang.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

📌 Realitas Finansial Juni 2026: Ketika Tagihan Menembus Angka 1 Juta dan Bertahan di Jalur Blogger