Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Jadi Tukang Rumput Itu Tidak Mudah Juga Ternyata


[Artikel 65#, kategori aktivitas] Akhirnya saya memutuskan juga membeli gunting rumput di atas. Beli yang murah-murah saja dan berharap baik-baik saja. Cuma 30 ribu pada waktu beli di tukang jualan serba murah. Lumayan, kebenaran rumput di taman rumah udah sangat panjang.

Beberapa bulan terakhir, rumput rumah yang biasa dipotongkan dan menggunakan mesin sudah tidak dilakukan lagi. Alasannya demi penghematan dan mencoba melakukannya sendiri.

Kadang agak kesal juga, selain lihat rumput yang terus tumbuh, orang rumah tidak ada yang peduli. Termasuk si Amir. Menumbuhkan kesadaran versus disuruh kadang memilih membiarkan. Manusia akan berubah suatu hari.

Tidak mudah menjadi tukang rumput

Melakukannya tergantung waktu juga. Kalau lagi ingin, bisa dilakukan pagi hari untuk menggantikan olahraga pagi yang beberapa hari ini sangat malas. Atau agak siang, mencari lokasi yang tidak terlihat matahari sambil memakai waktu sebagai batasnya.


Sebelum menggunakan gunting rumput, sebenarnya saya menggunakan pisau dapur. Haha... mau gimana lagi, waktu itu yang ada cuma itu aja. Dan direkomendasi sama pemilik rumahnya sendiri.

Beberapa tetangga, para asisten rumah tangga yang sering lewat, mereka paling sering memberi dukungan. Cucuran keringat dari atas kepala tidak bisa dibohongin bahwa aktivitas sederhana ini tidak mudah juga ternyata.

Satu jam berlalu, tangan saya malah pegel sendiri. Masih baru saja, mungkin beberapa kali dilakukan lagi akan terbiasa. Saya harap begitu. Hujan yang mengguyur Semarang beberapa hari terakhir sepertinya membuat rumput rumah semakin cepat tumbuh saja.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini