Selamat bertambah usia untukku. Di tengah perayaan sederhana yang kuhidupkan lewat tulisan ini, aku memilih tema “Pria Tidak Berdaya” sebagai cermin perjalananku. Bukan untuk meratapi nasib, tapi untuk memeluk kejujuran—tentang diriku, tentang hidup, dan tentang harapan yang masih kugenggam erat meski kadang terasa rapuh. Dalam bahasa Indonesia, “berdaya” berarti punya kekuatan, kemampuan, atau kemauan untuk menghadapi hidup—entah itu menyelesaikan masalah, mengejar mimpi, atau sekadar bangun dari tempat tidur dengan semangat. Tapi di usia ini, aku merasa berada di sisi sebaliknya: tidak berdaya. Bukan karena aku menyerah, tapi karena hidup terasa seperti permainan yang aturannya terus berubah, dan aku sering kehabisan napas untuk mengejar. Hampa di Tengah Keramaian Di usia 39, aku melihat banyak pria seusia ku hidup dalam ritme yang sepertinya lebih “hidup”. Mereka punya pekerjaan yang memberi kepastian—gaji bulanan yang datang tanpa drama, hanya perlu mengatur apa yang masuk ke ...
Dapatkan link
Facebook
X
Pinterest
Email
Aplikasi Lainnya
Membaca Itu Sangat Penting
Dapatkan link
Facebook
X
Pinterest
Email
Aplikasi Lainnya
[Artikel #1, kategori Membaca] Saya senang masih diberi sesuatu yang berharga diusia sekarang. Saya masih terus belajar tentang bagaimana memaksimalkan diri sendiri. Dan lebih senangnya lagi adalah ketika bisa berbagi kepada mereka yang merasa rendah diri atau tidak percaya diri.
Sepertinya saya harus memberikan label / kategori baru buat 'membaca' di blog pribadi saya ini. Alasannya, banyak hal yang bisa didapat dari membaca. Label baru ini juga terinspirasi dari buku yang ada di bawah ini.
Ya, betul itu. Meski begitu, membaca tak harus dengan buku. Di era media sosial sekarang, membaca bisa lewat smartphone dengan mencari berbagai informasi di sana. Tapi terkadang karena rundown, kita bisa nggak fokus mendapatkan sesuatu yang menarik.
Banyak hal yang bisa bermanfaat setelah membaca buku. Seperti menambah kosakata baru, kita juga bisa mengembangkan komunikasi saat berbicara pada orang lain atau lainnya.
Jujur, saya juga pemalu sebenarnya. Tapi karena banyak mendapatkan informasi dari membaca, rasa percaya diri tumbuh begitu saja. Tiap bicara, baik dengan orang lain atau banyak orang, saya punya banyak bahan dan kosakata baru yang bisa menghidupkan diri saya agar lebih percaya diri.
Saya yakin, ini tidak terlambat semisal Anda tidak suka membaca. Memang, bila dari kecil sudah tidak diberi semangat atau menyukai membaca, sudah dewasa akan sulit. Pasti ingin yang lain dan lebih mudah.
Membaca dan menulis sangat erat kaitannya. Dan keduanya termasuk bagian komunikasi, selain ada 2 lagi yang turut berperan dalam hal komunikasi.
Banyak hal yang bisa kita dapatkan dari membaca. Saya mencoba menggali dari pengalaman dan buku yang sering saya baca. Semoga saya bisa memaksimalkan label atau kategori membaca bila Anda tiba-tiba datang ke halaman blog ini.
...
Saya berpikir sejenak setelah membaca buku yang saya taruh di sini. Saya punya banyak buku yang sudah saya baca, gimana memaksimalkannya kembali ya. Padahal masih bagus. Selain buku, ada juga majalah.
Salah satu ide yang saya coba buat adalah membuat rekaman suara atau audio di kanal Youtube saya. Tujuannya sih biar berbagi aja dan semisal malas baca, bisa mendengarkan apa yang saya rekam. Itu juga karena ada aplikasi yang bagus buat mengkonversi ide tersebut.
Yuk dari sekarang mulai ajak adik-adik atau anak-anak Anda gemar membaca. Karena kalau tidak dipupuk dari dini, sudah besar bisa malas. Membaca tak selalu membuat seseorang menjadi kutu buku, membaca membuat kita lebih tahu dari mereka yang tidak membaca.
[Artikel 17#, kategori Tips] Saya sudah menghitung kira-kira berapa kuota yang dihabiskan untuk menonton siaran langsung sepakbola via streaming. Tentu Anda sekarang bisa mengukur biaya untuk menghabiskan kuota apabila tim kesayangan Anda akan bertanding hari ini.
Begini rasanya ketika mertua datang ke rumah, nggak enakan. Padahal, cuma menjenguk cucu kesayangan. Tapi rasa malas yang biasa dirasakan sebelum nikah, berubah rasa risih. Serba salah, pokoknya.
[ Artikel 32#, kategori keluarga ] Hujan mengguyur Kota Semarang seharian penuh hari ini, Rabu (22/4). Bagi sebagian orang, rintik air yang jatuh mungkin terasa menenangkan, namun bagi saya, ada trauma kecil yang menyelinap setiap kali langit mulai mendung. Benar saja, hujan kali ini kembali membawa pesan yang selama ini paling saya hindari: kabar duka. Suara dering telepon yang belakangan ini sering membuat saya waswas tiba-tiba memecah keheningan. Di layar ponsel, terpampang nama Bapak. Begitu tombol terima saya tekan, terdengar suara yang sangat familiar sedang bertanya tentang cara melakukan panggilan video. Tak lama, sambungan berganti menjadi video call . Melihat wajah Bapak dengan peci putihnya, perasaan saya mulai tidak enak. Jarang sekali beliau meminta panggilan video jika tidak ada hal yang sangat mendesak. Benar saja, dengan nada suara yang berusaha tenang, Bapak mengabarkan bahwa adik bungsunya—paman saya—telah meninggal dunia. Kalimat Innalillahi meluncur begitu saja. Sa...
[ Ini adalah artikel ke-10 kategori Cinta ] Saya menaruh postingan ini dari pengalaman saya sendiri, jadi tidak semua pria memiliki sifat sama seperti saya. Beberapa hal mengenai wanita yang dapat membuatnya sedih maupun tersenyum, terkadang pria menyukainya. Tapi kadang pula, pria dianggap baperan. Wajar saja sih.
Selamat bertambah usia untukku. Di tengah perayaan sederhana yang kuhidupkan lewat tulisan ini, aku memilih tema “Pria Tidak Berdaya” sebagai cermin perjalananku. Bukan untuk meratapi nasib, tapi untuk memeluk kejujuran—tentang diriku, tentang hidup, dan tentang harapan yang masih kugenggam erat meski kadang terasa rapuh. Dalam bahasa Indonesia, “berdaya” berarti punya kekuatan, kemampuan, atau kemauan untuk menghadapi hidup—entah itu menyelesaikan masalah, mengejar mimpi, atau sekadar bangun dari tempat tidur dengan semangat. Tapi di usia ini, aku merasa berada di sisi sebaliknya: tidak berdaya. Bukan karena aku menyerah, tapi karena hidup terasa seperti permainan yang aturannya terus berubah, dan aku sering kehabisan napas untuk mengejar. Hampa di Tengah Keramaian Di usia 39, aku melihat banyak pria seusia ku hidup dalam ritme yang sepertinya lebih “hidup”. Mereka punya pekerjaan yang memberi kepastian—gaji bulanan yang datang tanpa drama, hanya perlu mengatur apa yang masuk ke ...
membaca isi pikiran orang juga penting :p hahaha
BalasHapus